Internasional
Pejabat Iran Peringatkan Trump, Langkah Ceroboh AS Bisa Seret Kawasan ke “Neraka Hidup”
Ahlulbait Indonesia | 6 April 2026 — Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar tidak mendorong konfrontasi lebih jauh dengan Teheran, seraya menilai langkah Washington berisiko menyeret Amerika dan kawasan Asia Barat ke situasi yang lebih destruktif.
Peringatan itu disampaikan melalui akun X pada Minggu (5/4/2026), di tengah meningkatnya ketegangan setelah Trump kembali mengancam Iran terkait penutupan Selat Hormuz.
Qalibaf menyebut kebijakan Trump sejalan dengan garis Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan memperingatkan dampak luas jika eskalasi terus dipaksakan.
“Langkah-langkah ceroboh Anda sedang menyeret Amerika Serikat ke neraka hidup bagi setiap keluarga, dan seluruh kawasan kita akan terbakar karena Anda bersikeras mengikuti perintah Netanyahu,” tulisnya.
Ia juga mengingatkan risiko salah perhitungan terhadap Iran. Tekanan militer dan tindakan yang dikategorikan sebagai kejahatan perang, menurutnya, tidak akan menghasilkan keuntungan bagi Washington.
Qalibaf menegaskan penyelesaian konflik hanya dapat dicapai melalui penghormatan terhadap hak rakyat Iran dan penghentian apa yang disebutnya sebagai “permainan berbahaya”.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran, termasuk menyebut akan “melepaskan neraka” jika Teheran tetap menutup Selat Hormuz.
Trump juga menyatakan Selasa akan menjadi hari serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan di Iran, sebuah sinyal perluasan target ke infrastruktur sipil dan strategis.
Di tengah ancaman itu, Iran memperketat pembatasan pelayaran di Selat Hormuz, jalur maritim vital yang menjadi salah satu urat nadi pasokan energi dunia.
Otoritas Iran memberi sinyal jalur tersebut tetap terbuka bagi pelayaran internasional, kecuali untuk kapal yang terkait dengan Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya.
Pembatasan ini memicu lonjakan harga energi dan komoditas global. Sejumlah analis memperingatkan dampaknya dapat meningkat ke level historis jika konfrontasi terus berlanjut.
Peringatan tambahan disampaikan penasihat senior Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ali Akbar Velayati, yang menyoroti potensi gangguan lebih luas terhadap arus energi dan perdagangan internasional.
“Jika Gedung Putih berani mengulangi kesalahan bodohnya, mereka akan segera menyadari arus energi dunia dan perdagangan global dapat terganggu hanya dengan satu langkah,” kata Velayati, seperti dilaporkan Press TV.
Pernyataan beruntun dari pejabat senior Iran tersebut menunjukkan Teheran mulai memadukan tekanan militer dengan sinyal ekonomi dalam merespons Washington. Selat Hormuz tetap menjadi titik paling sensitif dalam konfrontasi yang kian terbuka. []
