Internasional
Muhsin Rezaei: Nasib Trump Bisa Seperti Carter
Ahlulbait Indonesia | 10 Maret 2026 — Anggota Dewan Penentu Kebijakan Kepentingan Negara Iran (Expediency Discernment Council), Mohsen Rezaei, menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpotensi mengalami nasib politik yang sama seperti mantan Presiden Jimmy Carter setelah perang yang sedang berlangsung berakhir.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui platform X pada Selasa (10/3/2026), Rezaei menegaskan bahwa berakhirnya konflik saat ini, pada titik mana pun, akan mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan dan sistem internasional yang menguntungkan Iran.
Ia juga mengatakan bahwa dampak dari perang tersebut dapat memainkan peran menentukan dalam pemilihan presiden Amerika Serikat mendatang.
Dewan Penentu Kebijakan Kepentingan Negara Iran merupakan lembaga konstitusional strategis yang bertugas menyelesaikan perselisihan antara Parlemen Iran dan Dewan Garda (IRGC) serta memberikan nasihat kepada Pemimpin Tertinggi. Lembaga ini berperan penting dalam merumuskan kebijakan umum negara dan menjaga stabilitas politik, terutama dalam periode sensitif.
Referensi “Nasib Carter”
Pernyataan Rezaei merujuk pada apa yang sering disebut sebagai “nasib Carter”, yakni dampak politik yang dialami Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter setelah Krisis Sandera Iran tahun 1979.
Pada peristiwa tersebut, 52 diplomat Amerika Serikat ditahan di Teheran selama 444 hari, yang kemudian menjadi salah satu krisis diplomatik terbesar dalam hubungan kedua negara.
Krisis itu melemahkan citra Carter di dalam negeri, terutama setelah gagalnya operasi militer Amerika Serikat untuk membebaskan para sandera.
Akibatnya, Carter kalah dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 1980 dari Ronald Reagan. Sejak itu, istilah “nasib Carter” sering digunakan untuk menggambarkan kekalahan politik yang dipicu oleh krisis besar terkait Iran.
Iran Tidak Tertarik Gencatan Senjata
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf sebelumnya juga menegaskan bahwa Republik Islam Iran tidak sedang mencari gencatan senjata dalam konflik yang berlangsung saat ini.
Dalam pernyataan yang juga disampaikan melalui platform X, Ghalibaf mengatakan bahwa Iran meyakini agresor harus diberi pelajaran keras agar tidak lagi mempertimbangkan serangan terhadap Iran di masa depan.
Pernyataan para pejabat Iran tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang berpotensi memperluas dampak konflik di kawasan Timur Tengah.[]
