Internasional
Laporan HuffPost: Tentara AS Mulai Muak, “Kami Tidak Ingin Mati untuk Israel”
Ahlulbait Indonesia | Kamis, 26 Maret 2026 — Keraguan terhadap perang Amerika Serikat melawan Iran dilaporkan mulai meluas di tubuh militer AS, di tengah pengerahan pasukan tambahan ke kawasan dan meningkatnya kekhawatiran atas kemungkinan operasi darat yang lebih besar.
Laporan HuffPost yang terbit pada Minggu (22/3/2026), ditulis Akbar Shahid Ahmed dengan judul “Do Not Want To Die For Israel: Doubts About Trump’s Iran Strategy Spread Among Troops”, menggambarkan meningkatnya keresahan moral, tekanan psikologis, dan kelelahan politik di kalangan prajurit aktif, personel cadangan, veteran, serta kelompok advokasi militer.
Di antara keluhan yang muncul, terdapat satu ungkapan yang disebut berulang kali terdengar dari para tentara: mereka tidak ingin dikirim ke perang yang mereka pandang tidak memiliki tujuan yang jelas dan tidak mereka yakini sebagai perang mereka sendiri.
“Mereka tidak ingin mati untuk Israel,” kata seorang veteran sekaligus anggota cadangan yang, menurut laporan itu, membimbing sejumlah perwira muda.
Sumber yang sama juga menyebut ada tentara yang mulai melihat perang ini bukan semata operasi militer, melainkan bagian dari agenda politik yang tidak mereka pilih.
“Mereka tidak ingin menjadi pion politik,” ujarnya.
Pengerahan Tambahan Memperbesar Kegelisahan
Keresahan tersebut mencuat ketika Presiden Donald Trump memerintahkan pengerahan ribuan pelaut dan personel Marinir tambahan ke Asia Barat. Di tengah situasi yang terus memanas, langkah itu justru dinilai memperbesar kecemasan di kalangan pasukan, terutama terkait kemungkinan keterlibatan dalam operasi darat di Iran.
Menurut HuffPost, personel yang kemungkinan akan menjadi bagian dari operasi semacam itu justru termasuk yang paling skeptis terhadap arah perang saat ini.
Seorang pejabat AS yang mengetahui pembahasan internal mengenai opsi militer menggambarkan kemungkinan operasi darat secara gamblang.
“Bencana besar,” kata pejabat tersebut.
Dalam kutipan lain, pejabat yang sama menyinggung belum adanya kesiapan yang memadai untuk skenario perang darat yang lebih luas.
“Kita bahkan tidak punya rencana untuk itu. Kita bahkan tidak bisa sepenuhnya mempertahankan satu pun pangkalan darat di wilayah tersebut,” ujarnya.
Perang yang Kehilangan Landasan Moral
Salah satu temuan paling penting dalam laporan itu terletak pada krisis narasi yang mulai dirasakan di tubuh militer AS. Bagi banyak personel, perang ini dinilai tidak lagi ditopang oleh penjelasan yang utuh, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan secara strategis.
Di level pasukan cadangan, keraguan itu berkembang menjadi pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa mereka harus menanggung risiko perang yang dinilai tidak memiliki manfaat strategis yang jelas bagi keselamatan mereka maupun kepentingan nasional Amerika Serikat.
Dalam konteks ini, persoalan Washington tidak lagi semata berada di medan tempur. Perang juga mulai menghadapi masalah legitimasi di dalam institusi militer yang diminta untuk menjalaninya.
Tekanan Lapangan dan Titik Balik Psikologis
Laporan tersebut juga menempatkan dinamika medan tempur sebagai faktor penting dalam memburuknya moral pasukan. Sejak perang pecah pada 28 Februari, Iran disebut telah beberapa kali meluncurkan rudal balistik dan drone ke fasilitas militer AS di negara-negara Teluk Persia serta target-target di wilayah pendudukan Israel.
Pada saat yang sama, pejabat militer Iran telah berulang kali memperingatkan Washington agar tidak memperluas konflik. Teheran menyatakan angkatan bersenjatanya telah lama mempersiapkan skenario perang asimetris dan siap menerapkannya jika eskalasi terus berlanjut.
Di antara peristiwa yang disebut paling mengguncang psikologis sejumlah tentara AS adalah serangan udara Amerika Serikat pada hari pertama perang yang menghantam sebuah sekolah perempuan di Kota Minab, Iran. Serangan itu dilaporkan menewaskan hampir 170 siswi.
Direktur Eksekutif Center on Conscience and War, Mike Prysner, menyebut insiden tersebut sebagai titik balik moral bagi banyak personel militer.“Bagi banyak tentara, itu adalah titik puncaknya,” kata Prysner.
Laporan ini memperlihatkan satu gejala yang semakin sulit diabaikan: perang melawan Iran tidak hanya memperluas beban militer dan risiko kawasan bagi Amerika Serikat, tetapi juga mulai mengikis keyakinan di dalam tubuh tentaranya sendiri. []
