Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Ketegangan di Kampus Iran, Media Nasional Soroti Peran Kementerian Sains

Published

on

Sejumlah mahasiswa Iran melakukan protes di Tehran (Foto: Mehrnews]

Ahlulbait Indonesia, 24 Februari 2026 — Ketegangan di sejumlah universitas Iran kembali memicu polemik publik. Harian Kayhan edisi Selasa (24/2) menilai insiden kekerasan di lingkungan kampus sebagai ancaman serius terhadap stabilitas akademik sekaligus keamanan nasional. Kritik juga diarahkan kepada Kementerian Sains terkait pendekatan penanganan situasi.

Laporan media menyebut adanya pelemparan batu, perusakan fasilitas, serta dugaan penggunaan senjata tajam dalam beberapa peristiwa terbaru. Kayhan menegaskan pelaku kekerasan tidak dapat disamakan dengan mahasiswa yang menyampaikan aspirasi secara damai.

Kampus dan Narasi Keamanan

Dalam artikelnya, Kayhan menulis individu yang membawa senjata dan merusak fasilitas publik tidak layak disebut mahasiswa. Media itu juga mengaitkan pola kerusuhan dengan adanya campur tangan eksternal, termasuk jaringan intelijen asing seperti Central Intelligence Agency dan Mossad.

Ketegangan dilaporkan terjadi di sejumlah kampus besar, antara lain University of Tehran, Sharif University of Technology, dan Amirkabir University of Technology. Dokumentasi yang beredar di media sosial memperlihatkan aksi saling dorong, pembatasan akses, serta penjagaan ketat di beberapa titik kampus.

Kritik atas Kebijakan Toleransi

Situs berita Raja News turut menyoroti pendekatan Kementerian Sains yang dinilai terlalu bertumpu pada kebijakan toleransi dan de-eskalasi pasca peristiwa Januari. Media tersebut menyatakan tidak ada pemisahan tegas antara aksi protes damai dan tindakan kriminal.

Pencopotan sejumlah pejabat keamanan kampus pada awal tahun juga disebut melemahkan manajemen krisis. Dua universitas yang mengalami pergantian pengelola keamanan dilaporkan kembali menjadi pusat ketegangan. Hingga kini, Kementerian Sains belum mengeluarkan pernyataan resmi terperinci menanggapi tudingan tersebut.

Kayhan mengaitkan situasi terkini dengan konteks historis, termasuk peristiwa 1953 dan figur nasionalis Mohammad Mossadegh. Narasi ini digunakan untuk menegaskan bahwa kampus di Iran memiliki sensitivitas politik tinggi dan kerap menjadi simbol mobilisasi sosial dalam sejarah modern negara itu.

Media tersebut juga mengutip pernyataan Herzl Halevi pada 2015 terkait percepatan pertumbuhan ilmiah Iran. disampaikan.

Kampus sebagai Ruang Akademik

Di tengah perdebatan, sejumlah akademisi menyerukan penguatan keamanan tanpa mengorbankan kebebasan akademik. Lingkungan universitas dinilai harus tetap menjadi ruang riset, diskusi, dan pengembangan ilmu.

Pengamat kebijakan publik menilai respons negara perlu proporsional: tindakan kriminal ditangani melalui mekanisme hukum, sementara hak mahasiswa menyampaikan pendapat tetap dijamin dalam koridor aturan.

Ketegangan beberapa pekan terakhir menunjukkan isu keamanan kampus belum sepenuhnya stabil. Perdebatan kini berpusat pada satu titik krusial: bagaimana menyeimbangkan penegakan hukum dengan perlindungan kebebasan akademik. [HMP/ABI]