Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Juru Bicara Kemenlu Iran: Pembunuhan Ayatullah Khamenei adalah Perang Agama

Published

on

Ahlulbait Indonesia | 2 Maret 2026 — Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baqaei, menegaskan pembunuhan Ayatullah Khamenei sebagai kejahatan internasional dan bentuk perang agama yang menargetkan Iran serta Asia Barat. Dalam wawancara khusus dengan Al Mayadeen pada Minggu malam (1/3/2026), ia menyatakan konflik yang berlangsung merupakan perang terhadap Iran, bukan perang yang diprakarsai Teheran.

“Perang ini sangat menentukan bagi Asia Barat dan seluruh Timur Tengah. Ini adalah perang terhadap Iran, dan bukan perang Iran,” kata Baqaei.

Menurut dia, pembunuhan Ayatullah Khamenei bukan hanya serangan terhadap kepala negara atau figur politik, melainkan terhadap simbol keagamaan dan poros politik yang memiliki pengaruh luas di kawasan. “Beliau bukan pemimpin biasa atau hanya marja. Pembunuhan ini adalah kejahatan internasional dan perang agama,” ujarnya.

Sistem Politik Berbasis Institusi

Baqaei menolak narasi yang menyebut stabilitas Iran bertumpu pada satu tokoh. Struktur Republik Islam, kata dia, dibangun di atas fondasi kelembagaan dan mekanisme konstitusional.

“Sistem ini tidak bergantung pada individu. Kami telah mengakhiri kediktatoran masa lalu dan membangun tatanan berbasis institusi,” katanya.

Selama 37 tahun kepemimpinan Ayatullah Khamenei, lanjut Baqaei, prioritas diarahkan pada isu Palestina, kepentingan nasional Iran, dan stabilitas kawasan. Ia menepis anggapan pembelaan tersebut terbatas pada satu mazhab.

“Beliau membela Palestina dan masyarakat kawasan. Tidak hanya Syiah,” ujarnya, sembari mengajak komunitas Sunni melihat rekam jejak itu secara objektif.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran juga menyinggung gelombang demonstrasi di berbagai negara yang muncul setelah pembunuhan tersebut. Aksi-aksi itu, menurut dia, mencerminkan kemarahan publik terhadap serangan atas simbol perlawanan kawasan.

Target Militer dan Pembelaan Diri

Menanggapi penargetan pangkalan Amerika Serikat di sejumlah negara Arab, Baqaei menegaskan sasaran operasi adalah fasilitas militer Amerika, bukan negara tuan rumah.

“Roket diarahkan ke pangkalan musuh. Ini pembelaan diri,” katanya.

Seluruh langkah militer, lanjutnya, difokuskan untuk melumpuhkan aset yang digunakan dalam serangan terhadap Iran. Ia juga menyebut terdapat fasilitas sipil dan perumahan yang dimanfaatkan untuk kepentingan militer.

Iran, tegas Baqaei, tidak memiliki persoalan dengan masyarakat maupun pemerintah negara-negara kawasan. “Negara-negara Teluk adalah sahabat. Kami berupaya menjaga hubungan bertetangga yang baik,” ujarnya.

Pernyataan serupa sebelumnya disampaikan Ali Larijani yang menyatakan pangkalan yang menjadi sasaran merupakan wilayah operasional Amerika dan bukan bagian dari kedaulatan negara tempat pangkalan itu berada.

Keputusan Militer dan Isu Selat Hormuz

Mengenai kemungkinan eskalasi, Baqaei menegaskan keputusan strategis berada di tangan Angkatan Bersenjata Iran. Negara memobilisasi seluruh kapasitas untuk membela kedaulatan dan keselamatan warga.

“Kami memobilisasi seluruh kemampuan untuk membela negara, rakyat, dan kedaulatan. Kami yang memutuskan apa yang digunakan dan apa yang ditargetkan,” ujarnya.

Ia menekankan kelanjutan konflik bukan tujuan Iran. Spekulasi terkait Selat Hormuz, menurut dia, seharusnya diarahkan kepada pihak yang memulai agresi.

“Isu Selat Hormuz tanyakan kepada musuh. Kawasan menghadapi kekacauan akibat agresi. Pihak yang melancarkan serangan harus dimintai pertanggungjawaban,” katanya.

Baqaei juga menilai pihak Zionis telah menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik yang lebih luas. Sejumlah langkah militer Iran, menurut dia, merupakan respons terukur terhadap agresi tersebut.

“Kami menganggap semua negara sahabat. Tanpa provokasi musuh, kawasan dapat hidup damai,” ujarnya.

Pertemuan Badan Atom di Wina

Di tengah ketegangan militer, Baqaei mengonfirmasi agenda pertemuan Badan Atom di Wina pada Senin. Ia berharap lembaga tersebut bersikap profesional dan seimbang.

Menurutnya, Direktur Jenderal badan itu dalam beberapa kesempatan mengambil posisi politis. Situasi krisis, kata dia, menuntut netralitas dan pendekatan berbasis hukum internasional.

Baqaei juga mengungkap rencana pertemuan Iran dan Amerika Serikat di Wina yang batal terlaksana. “Seharusnya ada pertemuan antara Iran dan Amerika. Dua hari sebelumnya terjadi agresi,” ujarnya.

Iran, lanjut dia, tetap membuka ruang diplomasi. “Kami bernegosiasi. Pihak lain tidak menginginkannya dan menjadikannya dalih untuk menyerang,” katanya.

Dalam keseluruhan pernyataan tersebut, Baqaei membingkai situasi saat ini sebagai ujian strategis bagi stabilitas Asia Barat. Pembunuhan Ayatullah Khamenei, operasi militer, dan dinamika diplomasi internasional ditempatkan dalam satu konteks besar, yakni pertarungan atas kedaulatan Iran dan arah masa depan kawasan. [HMP/ABI]