Internasional
Jihad Islam Puji Iran dan Hizbullah, Nilai Poros Perlawanan Kian Solid
Ahlulbait Indonesia | 6 April 2026 — Saraya al-Quds, sayap militer Jihad Islam Palestina, memuji serangan Iran dan tekanan militer Hizbullah Lebanon terhadap Israel, seraya menilai rangkaian operasi di berbagai front telah memperkuat poros perlawanan di tengah eskalasi konflik kawasan.
Mengutip Al Manar, Minggu (5/4/2026), kelompok itu menyebut agresi gabungan Israel dan Amerika Serikat mulai kehilangan daya tekan seiring menguatnya serangan balasan dari Iran dan berbagai front perlawanan di kawasan.
Sorotan utama diarahkan pada operasi militer Iran di Isfahan, yang disebut sebagai pukulan telak terhadap militer Amerika. Dalam narasi Saraya al-Quds, pasukan Iran dinilai berhasil menghancurkan sejumlah aset udara canggih milik Washington dan menunjukkan kerentanan operasi Amerika di lapangan.
Rentetan serangan rudal terkoordinasi dari Iran, Yaman, Irak, dan Lebanon juga dipandang sebagai penanda semakin terintegrasinya front-front perlawanan. Pola serangan itu, menurut kelompok tersebut, menunjukkan poros perlawanan tidak hanya tetap aktif, tetapi juga semakin terhubung dalam tekanan militer kawasan.
Pujian khusus diarahkan kepada Hizbullah Lebanon, yang dinilai terus menekan militer Israel di front selatan Lebanon melalui penghancuran kendaraan tempur, serangan ke posisi militer, dan tembakan roket presisi ke wilayah pendudukan.
Saraya al-Quds menilai operasi Hizbullah telah mengacaukan kalkulasi Israel dan menunjukkan ancaman terhadap Tel Aviv tetap nyata, meski kelompok itu berkali-kali menjadi sasaran operasi pelemahan dan pembunuhan terarah.
Apresiasi juga disampaikan kepada para juru bicara poros perlawanan, termasuk Kolonel Ebrahim Zolfaqari dari Iran dan Brigadir Jenderal Yahya Saree dari Yaman. Keduanya dinilai berperan penting dalam membangun narasi tandingan terhadap klaim militer dan politik pihak lawan.
Tahanan Palestina dan Al-Aqsa
Selain dimensi regional, pernyataan itu juga menyoroti isu inti Palestina, terutama nasib para tahanan dan situasi di Masjid Al-Aqsa.
Rencana penerapan hukuman mati bagi tahanan Palestina dikecam sebagai bagian dari agresi Zionis yang lebih luas. Dalam pandangan Saraya al-Quds, isu tahanan tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan konflik yang terus melebar.
“Tahanan kami adalah para pejuang utama perjuangan Palestina dan simbol perlawanan di tanah yang dirampas. Cepat atau lambat, hari kebebasan mereka akan tiba,” demikian pernyataan kelompok tersebut.
Israel di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu juga dituduh memanfaatkan situasi regional untuk memperketat kontrol atas Masjid Al-Aqsa, membatasi pelaksanaan salat, dan membuka ruang lebih besar bagi kelompok pemukim ekstremis.
Langkah itu dinilai berpotensi memicu ledakan yang lebih luas dengan dampak yang tidak lagi terbatas pada Palestina.
Di bagian akhir, warga Palestina di Tepi Barat dan Al-Quds diserukan untuk bergerak membela Masjid Al-Aqsa, sementara dunia Arab dan Islam didorong memperluas dukungan terhadap Palestina di tengah konfrontasi kawasan yang terus membesar.
Palestina Tetap Menjadi Pusat
Pernyataan terbaru ini memperlihatkan pola yang semakin konsisten dalam narasi poros perlawanan. Front Iran, Lebanon, Yaman, Irak, dan Palestina tidak lagi diposisikan sebagai arena yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari satu lanskap konflik yang saling berkait.
Dalam kerangka itu, pujian terhadap Iran dan Hizbullah bukan hanya ekspresi solidaritas, tetapi juga pesan politik yang lebih luas. Setiap front dibingkai sebagai bagian dari tekanan kolektif terhadap Israel dan Amerika Serikat, dengan Palestina tetap ditempatkan sebagai pusat legitimasi perjuangan. []
