Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Iran Serang Balik Narasi AS, Araghchi: Kepercayaan kepada Washington Nol

Published

on

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi saat wawancara dengan jaringan Al Jazeera Qatar pada 1 April. (Foto: Press TV)

Ahlulbait Indonesia | 01 April 2026— Iran melontarkan pesan keras kepada Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan Teheran tidak mempercayai Washington sama sekali, menolak klaim adanya negosiasi, dan memperingatkan bahwa setiap opsi serangan darat terhadap Republik Islam akan berujung pada konsekuensi besar.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Rabu (1/4/2026), Araghchi membantah keras narasi yang berkembang dari pihak Amerika soal adanya jalur diplomatik yang mengarah pada perundingan resmi. Menurut dia, pesan yang dikirimkan Washington tidak bisa dipoles seolah-olah menjadi tanda kemajuan diplomatik.

“Saya menerima pesan langsung dari utusan AS Steve Witkoff, seperti sebelumnya, dan ini tidak berarti kami sedang dalam negosiasi,” kata Araghchi.

Pernyataan itu sekaligus menjadi bantahan terbuka terhadap klaim pejabat AS yang menyebut ada komunikasi dengan otoritas Iran yang dapat dibaca sebagai proses negosiasi. Bagi Teheran, kontak bukan perundingan. Pesan bukan kesepakatan. Dan yang paling penting: kepercayaan tidak ada.

“Kami tidak yakin negosiasi dengan AS akan membuahkan hasil apa pun. Tingkat kepercayaan berada di angka nol. Kami tidak melihat kejujuran,” ujarnya.

Araghchi tidak bicara dalam ruang hampa. Ia menautkan sikap keras Iran pada rekam jejak Washington sendiri, terutama keputusan Amerika Serikat pada era Donald Trump yang keluar dari kesepakatan nuklir 2015.

Bagi Teheran, pengalaman itu menjadi bukti bahwa komitmen Amerika dapat dibatalkan sewaktu-waktu, bahkan setelah kesepakatan besar dicapai. Karena itu, setiap tawaran diplomatik dari Washington kini dibaca bukan sebagai peluang, melainkan sebagai sesuatu yang patut dicurigai.

Ia juga mengungkap bahwa dalam setahun terakhir Iran sempat menempuh dua jalur kontak diplomatik dengan AS. Namun, menurutnya, kedua proses itu kembali kandas akibat agresi Amerika.

Araghchi menambahkan Iran belum menanggapi proposal 15 poin yang dikirim pihak Amerika. Teheran, kata dia, juga belum mengajukan proposal atau syarat tandingan. Ia sekaligus menolak tuduhan bahwa Iran memiliki banyak pusat keputusan yang saling bertabrakan.

Ancaman Operasi Darat Dijawab dengan Tantangan

Jika Washington mengira ancaman operasi darat akan menggertak Teheran, jawaban Araghchi justru terdengar sebaliknya: Iran mengaku siap.

“Kami sedang menunggu mereka. Saya rasa mereka tidak akan berani melakukan hal seperti itu. Akan ada banyak kekuatan yang menunggu mereka,” katanya.

Ia menegaskan Iran mengetahui betul cara mempertahankan diri dan bahkan mengklaim lebih siap menghadapi perang darat dibanding bentuk serangan lain. Pernyataan itu bukan sekadar retorika defensif, melainkan sinyal bahwa Teheran ingin menunjukkan satu hal: biaya invasi akan sangat mahal.

Selat Hormuz Dijadikan Instrumen Tekanan

Araghchi juga menegaskan posisi Iran terkait Selat Hormuz, jalur laut vital yang kini kembali masuk ke pusat ketegangan kawasan.

Menurut dia, pembatasan di selat itu diberlakukan terhadap kapal-kapal milik pihak yang terlibat perang melawan Iran. Dengan kata lain, Teheran ingin menegaskan bahwa Hormuz bukan sekadar jalur perdagangan global, melainkan juga alat tekanan strategis ketika perang meletus.

“Kami tidak bisa membiarkan musuh menggunakan perairan teritorial kami untuk perdagangan,” ujar Araghchi.

Ia menambahkan kapal-kapal dari negara lain pada praktiknya juga mulai menghindari jalur tersebut karena faktor keamanan, tingginya biaya asuransi, dan risiko perang yang belum mereda. Meski begitu, Araghchi mengatakan Selat Hormuz tetap dapat kembali berfungsi sebagai “jalur air yang damai” setelah perang berakhir.

Dalam pernyataan yang sama, Araghchi memperjelas syarat Teheran untuk menghentikan serangan balasan. Iran, kata dia, tidak tertarik pada gencatan senjata setengah jadi.

Yang diinginkan Teheran adalah pengakhiran perang secara penuh, bukan sekadar jeda tembak yang rapuh. Selain itu, Iran menuntut jaminan agresi tidak terulang, serta kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan terhadap rakyat Iran.

Pernyataan itu memperlihatkan posisi Iran yang ingin menaikkan standar penyelesaian konflik. Bukan berhenti sebentar, lalu perang dimulai lagi. Bukan meredakan headline selama seminggu, lalu bom jatuh lagi pekan depan.

Araghchi juga menolak kemungkinan Iran menerima jaminan dari pihak ketiga. Menurut dia, pengalaman selama ini menunjukkan bahkan jaminan dari Dewan Keamanan PBB pun tidak cukup untuk benar-benar menghentikan agresi asing.

Ultimatum Trump Ditolak Mentah-Mentah

Bagian paling politis dari wawancara itu muncul saat Araghchi menyinggung apa yang ia sebut sebagai tenggat waktu buatan dari Presiden AS Donald Trump.

Bagi Teheran, ultimatum semacam itu bukan instrumen diplomasi, melainkan bentuk tekanan yang tidak akan direspons dengan kepatuhan.

“Kami tidak menerima tenggat waktu. Tidak seorang pun dapat memaksakan tenggat waktu kepada kami,” kata Araghchi.

Ia menyebut ancaman dan tekanan hanya akan memperumit keadaan. Trump, menurut dia, perlu mengubah pendekatan secara mendasar jika benar-benar ingin berbicara dengan Iran.

Araghchi menegaskan rakyat Iran tidak bisa dipaksa tunduk melalui bahasa ancaman. Sebaliknya, tekanan seperti itu justru akan memicu perlawanan lebih keras.

Pesan Akhir Iran: Hormat atau Hadapi Konsekuensinya

Di ujung pernyataannya, Araghchi berupaya menyeimbangkan nada keras itu dengan pesan diplomatik: Iran, katanya, tetap menginginkan hubungan yang “saling menghormati dan bersahabat” dengan negara-negara di kawasan.

Namun pesan utamanya tetap jelas dan tidak dibungkus halus: Teheran tidak mau ditekan, tidak mau didikte, dan tidak percaya pada Washington.

Di tengah perang, Iran tampaknya sedang menyusun satu garis sikap yang tegas: pintu komunikasi bisa terbuka, tetapi tanpa ilusi bahwa Amerika datang dengan itikad baik. []