Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Iran Corner FISIP UB: Perang Timur Tengah Dipicu Serangan AS-Israel

Published

on

Iran Corner FISIP UB: Perang Timur Tengah Dipicu Serangan AS-Israel

Malang, 6 Maret 2026 — Iran Corner Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) menyatakan konflik militer yang kini memanas di Timur Tengah tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurut mereka, eskalasi perang bermula dari serangan militer terkoordinasi yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Koordinator Iran Corner FISIP UB, Syed Abdullah Yahya Assegaf, mengatakan serangan tersebut menargetkan berbagai situs militer serta kepemimpinan Iran di sejumlah wilayah.

“Eskalasi dimulai ketika serangan yang direncanakan sebelumnya oleh Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Iran pada 28 Februari 2026, menargetkan berbagai situs militer dan kepemimpinan di seluruh negeri,” kata Syed Abdullah dalam keterangan tertulisnya yang diterima Media ABI (6/3).

Menurutnya, rangkaian serangan yang dilaporkan melibatkan ratusan serangan udara di beberapa kota Iran itu menjadi salah satu konfrontasi militer paling serius di kawasan Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir.

Iran Corner FISIP UB juga menilai sejumlah serangan telah mengenai fasilitas sipil, termasuk sekolah, rumah sakit, fasilitas komunitas, serta kawasan permukiman warga.

“Serangan rezim AS-Israel kini menargetkan sekolah, rumah sakit, fasilitas komunitas, dan tempat tinggal,” ujar Syed Abdullah.

Dalam pernyataannya, Iran Corner menekankan bahwa pihak yang memulai konflik memiliki tanggung jawab utama untuk menghentikan eskalasi yang terjadi. Mereka mengingatkan bahwa siklus serangan dan pembalasan berpotensi memperluas konflik menjadi perang regional yang lebih besar.

Baca juga : Eskalasi Lebanon–Israel: Hizbullah Serukan Evakuasi Pemukim Israel di Wilayah Perbatasan

“Begitu perang dimulai melalui aksi militer skala besar seperti itu, tanggung jawab untuk mengakhiri eskalasi terutama terletak pada mereka yang memulai konflik,” kata dia.

Iran sendiri disebut telah merespons serangan awal tersebut dengan meluncurkan rudal dan drone yang menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat serta sekutunya di kawasan. Iran Corner menilai langkah itu sebagai bagian dari klaim hak membela diri yang sering dikemukakan negara dalam kerangka hukum internasional.

“Iran telah merespons dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan fasilitas militer AS dan sekutu di kawasan itu setelah serangan awal. Ini adalah respons yang sah,” ujar Syed Abdullah.

Meski demikian, organisasi tersebut memperingatkan bahwa eskalasi lanjutan dapat memperluas medan konflik dan mengancam stabilitas global. Karena itu, mereka mendorong sejumlah langkah mendesak, antara lain penghentian permusuhan segera, perlindungan terhadap warga sipil, penghormatan terhadap kedaulatan negara, serta kembali pada jalur diplomasi dan mediasi internasional.

Syed Abdullah juga mengingatkan bahwa di tengah meningkatnya konfrontasi geopolitik di Timur Tengah, penderitaan rakyat Palestina tetap menjadi persoalan yang belum terselesaikan.

“Akar penyebab ketidakstabilan di Timur Tengah tidak dapat dipisahkan dari masalah Palestina yang belum terselesaikan dan pendudukan yang sedang berlangsung,” katanya.

Ia menilai komunitas internasional perlu bertindak lebih tegas untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas serta membuka kembali jalan menuju keadilan dan perdamaian di kawasan tersebut.

Baca juga : Voting 219–212: Kongres AS Gagal Kendalikan Langkah Trump