Internasional
Intelijen AS Akui Iran Mampu Pulihkan “Bunker Rudal” dalam Hitungan Jam
Ahlulbait Indonesia | 5 April 2026 — Lembaga intelijen Amerika Serikat mengakui Iran mampu memperbaiki dan mengaktifkan kembali “bunker rudal bawah tanah” hanya dalam hitungan jam setelah dihantam serangan udara.
Laporan itu dikutip The New York Times pada Minggu (4/4/26), dari dokumen intelijen Amerika Serikat, yang menyebut personel Iran terus menggali kembali bunker dan silo rudal yang sebelumnya dihantam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan agresi militer bersama terhadap Iran pada 28 Februari, Presiden AS Donald Trump berulang kali mengklaim serangan tersebut telah menghasilkan “kemajuan besar” dalam melemahkan kemampuan rudal Iran.
Pekan ini, Pentagon juga mengklaim telah menghantam 11.000 target di wilayah Iran.
Namun, menurut laporan intelijen tersebut, Iran masih mempertahankan kemampuan untuk menggunakan sisa arsenal rudal balistik dan peluncur rudalnya guna menyerang Israel serta aset dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan.
Laporan yang sama juga menyebut penilaian kerusakan terhadap peluncur rudal Iran masih sulit dilakukan, terutama untuk fasilitas yang berada di dalam bunker atau gua yang menjadi sasaran serangan udara Amerika maupun Israel.
Menurut The New York Times, dokumen itu menyebut: “Bunker bawah tanah, gua, atau silo itu pada awalnya bisa tampak rusak. Namun pada kenyataannya, Iran mampu dengan cepat menggali kembali peluncur-peluncur rudal tersebut dan menggunakannya lagi untuk menembak.”
Sebelumnya, media Israel Haaretz juga melaporkan Iran menggunakan bulldozer untuk menggali kembali peluncur rudal yang sempat tertimbun puing-puing.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio sebelumnya menyatakan salah satu tujuan utama perang terhadap Iran adalah menciptakan “pelemahan serius” terhadap kapasitas peluncuran rudal negara tersebut.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga berulang kali mengklaim jumlah serangan rudal Iran terus menurun. “Ya, mereka masih akan menembakkan sejumlah rudal, tetapi kami akan mencegatnya,” kata Hegseth pada Senin.
Namun, laporan intelijen terbaru justru memunculkan keraguan terhadap klaim pemerintahan Trump yang menyebut penghancuran kemampuan rudal Iran sebagai salah satu tujuan kunci perang melawan Republik Islam tersebut.
Dalam lima pekan terakhir, serangan balasan rudal dan drone yang dilancarkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan telah menimbulkan kerusakan bernilai miliaran dolar terhadap aset Amerika Serikat di kawasan.
Perang yang memicu gejolak pasar energi dan pasar saham global, mengganggu jalur pelayaran, serta menimbulkan korban di pihak pasukan Amerika Serikat di berbagai titik kawasan itu kini juga mulai menambah tekanan politik terhadap Donald Trump di dalam negeri untuk segera mengakhirinya. []
