Internasional
Hamas Puji Iran dan Hizbullah, Serukan Pembelaan Al-Aqsa dan Tahanan Palestina
Ahlulbait Indonesia | 6 April 2026 — Juru bicara militer Brigade Izzuddin al-Qassam, Abu Ubaidah, memuji serangan balasan Iran dan ketahanan Hizbullah Lebanon, seraya menyerukan mobilisasi lebih luas untuk membela Masjid Al-Aqsa dan para tahanan Palestina di tengah eskalasi konflik kawasan.
Mengutip Al Manar, Minggu (5/4/2026), Abu Ubaidah menyebut operasi yang dijalankan kelompok-kelompok perlawanan di Iran, Lebanon, dan Yaman sebagai kelanjutan dari “Badai Al-Aqsa” yang bermula dari Gaza. Dukungan terbuka juga disampaikan kepada Lebanon dan kekuatan perlawanan di negara itu.
Serangan balasan Garda Revolusi Iran (IRGC) dinilai sebagai bagian penting dari tekanan terhadap Israel dan Amerika Serikat. Pada saat yang sama, Hizbullah Lebanon disebut tetap menjadi salah satu titik benturan utama dalam konfrontasi kawasan yang terus meluas.
Tekanan militer di berbagai front, menurut Abu Ubaidah, tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung dalam satu poros konflik yang lebih luas.
Kemampuan tempur Hizbullah juga mendapat sorotan. Kelompok itu dinilai telah menimbulkan kerugian signifikan bagi Israel, sekaligus tetap menjadi ancaman strategis meski berkali-kali menjadi sasaran operasi militer.
Setelah menyoroti Iran dan Lebanon, fokus pernyataan diarahkan pada isu Palestina. Seruan disampaikan kepada dunia Islam dan komunitas internasional untuk membela Masjid Al-Aqsa serta para tahanan Palestina.
“Pelanggaran terhadap Al-Aqsa dan para tahanan Palestina tidak akan berlalu tanpa konsekuensi, berapa pun harga yang harus dibayar rakyat kami,” kata Abu Ubaidah.
Serangan terhadap Iran, termasuk insiden di Minab yang disebut sebagai pembantaian, juga disinggung. Peristiwa itu dinilai mengingatkan pada pola kekerasan yang sebelumnya terjadi di Gaza.
Dalam konteks perundingan, proposal yang didorong melalui para mediator disebut mengandung risiko besar. Pihak Palestina dinilai telah memenuhi kewajibannya secara bertanggung jawab, sekaligus menutup ruang dalih bagi Israel.
Tekanan kemudian diarahkan kepada Israel untuk menuntaskan komitmennya pada tahap awal kesepakatan sebelum pembahasan berlanjut. Posisi Amerika Serikat juga disorot karena dinilai tidak netral dalam proses tersebut.
Rancangan undang-undang hukuman mati bagi tahanan Palestina turut dikecam sebagai langkah yang memperburuk eskalasi. Dalam pandangan al-Qassam, agresi Israel kini meluas dari Palestina ke Lebanon, Yaman, dan kawasan lain.
Seruan juga ditujukan kepada warga Palestina di Tepi Barat, Al-Quds, dan wilayah pendudukan 1948 untuk bergerak menuju Masjid Al-Aqsa sebagai bentuk pembelaan langsung terhadap situs suci tersebut.
Pernyataan ini menegaskan pola yang semakin jelas. Gaza, Al-Aqsa, para tahanan Palestina, Iran, Lebanon, dan Front Perlawanan regional diposisikan dalam satu garis konfrontasi yang saling terhubung. []
