Ikuti Kami Di Medsos

Pendidikan

Ustadz Zahir Yahya: Kesyahidan Imam Ali Khamenei Membuka Babak Baru Perlawanan Umat

Published

on

Malang, 6 Maret 2026 — Kesyahidan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Imam Sayyid Ali Al-Husaini Al-Khamenei, disebut bukan sebagai akhir perjuangan umat Islam, melainkan pembuka babak baru perlawanan terhadap tirani dan dominasi kekuatan besar dunia.

Pandangan tersebut disampaikan Ustadz Zahir Yahya dalam ceramah peringatan kelahiran Imam Hasan al-Mujtaba a.s. yang sekaligus menjadi majelis takziah atas syahidnya Imam Ali Khamenei, pada Rabu (4/3/2026) di Husainiyah Misbah al-Huda, Malang, Jawa Timur.

Ustadz Zahir Yahya dalam pembukaan ceramah, menyampaikan ungkapan belasungkawa mendalam atas wafatnya tokoh yang disebutnya sebagai sosok agung bagi umat Islam. Kesyahidan Imam Ali Khamenei, menurutnya, merupakan kehilangan besar tidak hanya bagi rakyat Republik Islam Iran, tetapi juga bagi umat Islam di seluruh dunia serta bangsa-bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan.

Menurutnya, kesyahidan sosok mulia, manusia agung, Al-Imam Sayyid Ali Al-Khamenei, di tangan para algojo dan musuh-musuh kemanusiaan adalah sebuah kehilangan yang sangat besar bagi segenap kaum mukminin. Kehilangan ini dirasakan oleh rakyat Republik Islam Iran, umat Islam di berbagai negeri, bahkan oleh bangsa-bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan di seluruh dunia.

Kita selaku pecinta, pengikut, bahkan muqallid dari sang syahid tentu menghaturkan belasungkawa dan duka yang mendalam kepada Baginda Sahibul ‘Ashri waz Zaman ( ‘ajjalallahu ta‘ala farajahus syarif) kepada segenap ulama, kepada para pejuang dan mujahidin, kepada poros perlawanan, serta kepada seluruh umat Islam, khususnya kaum mukminin, atas kehilangan yang amat sangat besar ini.

Meski di hari-hari ini dada-dada kita terasa sesak dan air mata kesedihan tidak henti-hentinya mengalir, namun sebagai umat yang beriman kepada Allah, kita semua tetap menyatakan bahwa kita berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan menerima seluruh kehendak serta keputusan-Nya.

Kita menerima, bahkan memuji Allah Subhanahu wa Ta‘ala atas kehendak dan pilihan terbaik-Nya bagi umat Islam dan bagi bangsa di Republik Islam Iran pada khususnya. Kita adalah umat yang diajarkan untuk memuji Tuhan atas besarnya musibah yang menimpa kita.

Karena itu kita mengatakan: “Allahumma lakal hamd hamdas syakirina ‘ala mushabihim.”

Segala puji bagi Engkau, ya Allah. Pujian orang-orang yang bersyukur atas musibah yang menimpa mereka.

Duka yang Melahirkan Keteguhan

Di sisi lain, kita juga meyakini bahwa kesyahidan Ayatullah Al-Imam Sayyid Ali Khamenei bukanlah akhir dari perjalanan yang telah ditempuh. Kesyahidan beliau justru merupakan babak baru dari sebuah perjuangan; babak baru dari sebuah perlawanan; dan babak baru dari kekompakan serta persatuan yang seharusnya terbangun di antara umat Islam.

Kita juga meyakini bahwa para pengikut beliau, baik bangsa dan rakyat di Republik Islam Iran maupun para pengikut beliau di seluruh penjuru dunia, akan terus melanjutkan perjalanan yang telah beliau tempuh.

Ustadz Zahir Yahya menegaskan bahwa kesyahidan Imam Ali Khamenei tidak menandai berakhirnya perjalanan panjang yang telah ditempuh oleh pemimpin Iran tersebut.

Syahid Imam Sayyid Ali Khamenei menghabiskan lebih dari delapan dasawarsa dari umur beliau yang penuh berkah untuk memperjuangkan, memelihara, dan memimpin jalannya Revolusi Islam Iran.

Beliaulah yang, baik sebelum kemenangan Revolusi Islam Iran pada tahun 1979 maupun sesudahnya hingga akhir hayat beliau, seluruh hidupnya dipersembahkan untuk menegakkan nilai-nilai agung agama di tengah umat manusia.

Pada saat yang sama, beliau juga merupakan garda terdepan dalam membela kaum Muslimin. Beliau menjadi garda terdepan bagi berbagai gerakan perlawanan, sekaligus pendukung besar bagi kaum tertindas di seluruh dunia.

Sungguh begitu banyak pelajaran yang telah beliau wariskan kepada kita semua, khususnya kepada para pengikut, para pecinta, dan para muqallid beliau.

Di antara pelajaran terbesar yang beliau wariskan kepada kita adalah pelajaran tentang pentingnya perlawanan.

Perlawanan terhadap setiap entitas yang korup, perlawanan dan perjuangan menentang semua bentuk kerusakan, penyimpangan, kepalsuan, dan tirani. Perlawanan terhadap arogansi serta terhadap semua bentuk hegemoni dan dominasi musuh-musuh Allah SWT.

Melalui kepemimpinan beliau, setidaknya selama delapan tahun setelah Revolusi Islam Iran sebagai Presiden Republik Islam Iran, kemudian disusul dengan masa panjang sekitar 36 hingga 37 tahun sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran sekaligus Waliyyu Amril Muslimin, beliau berhasil menghadirkan cakrawala dan budaya perlawanan terhadap berbagai bentuk hegemoni kekuatan imperialis dunia.

Dan itulah yang kita saksikan pada beberapa dekade terakhir di berbagai bagian dunia.

Gerakan-gerakan Perlawanan yang kita lihat di berbagai tempat, khususnya setelah peristiwa Badai Al-Aqsa beberapa tahun lalu hingga berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, termasuk agresi gabungan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran, menunjukkan sikap tangguh perlawanan dari berbagai kelompok umat Islam di berbagai negara.

Semua keteguhan perlawanan tersebut, khususnya yang ditunjukkan oleh bangsa dan rakyat Republik Islam Iran, merupakan buah nyata dari ajaran yang diwariskan oleh Revolusi Islam Iran di bawah kepemimpinan Al-Imam Ruhullah Al-Khomeini dan Al-Imam Sayyid Ali Khamenei, ridwanullahi ta‘ala ‘alaihima.

“Beliau juga merupakan pendukung terbesar bagi gerakan perlawanan dan pembela kaum tertindas di seluruh dunia,” ujar Ustadz Zahir.

Ustadz Zahir Yahya menilai salah satu warisan terbesar Imam Khamenei adalah penekanan pada pentingnya perlawanan atau muqawamah terhadap berbagai bentuk tirani dan dominasi.

Perlawanan tersebut mencakup sikap menentang korupsi, penyimpangan, kerusakan, serta hegemoni kekuatan imperialis dunia.

Muqawamah sebagai Jalan Kemuliaan

Sudah sering saya katakan bahwa perlawanan dan muqawamah adalah pilar kunci bagi setiap masyarakat, bagi setiap bangsa, bagi setiap umat yang ingin hidup dan tetap hidup merdeka serta bermartabat. Muqawamah dan perlawanan juga merupakan syarat bagi keberhasilan dan kesuksesan sebuah bangsa di mana pun mereka berada.

Kita mengetahui bahwa melawan setiap bentuk agresi, melawan setiap bahaya dan ancaman, adalah sesuatu yang secara fitri telah Allah tanamkan dalam diri setiap insan. Setiap manusia dengan fitrah sucinya memiliki dorongan untuk membela dirinya terhadap setiap agresi dari pihak mana pun dan terhadap setiap bahaya yang mengancam eksistensinya, keyakinannya, ataupun agamanya.

Selain sebagai dorongan yang bersifat sangat fitri dan inheren dalam diri manusia, perlawanan juga merupakan dorongan yang bahkan terdapat pada setiap makhluk Tuhan. Dorongan itu ada pula pada hewan dan binatang.

Karena itulah kita menyaksikan bahwa Allah SWT memberikan sarana perlawanan dan perlindungan kepada setiap makhluk-Nya. Ada binatang yang membela dirinya dengan tanduknya. Ada yang mempertahankan dirinya di hadapan bahaya dengan kuku dan cakarnya. Ada pula yang melindungi dirinya dengan duri tajam yang menutupi tubuhnya.

Semua makhluk dibekali sekaligus diberi kecenderungan oleh Tuhan Pencipta untuk dapat bertahan dan melawan di hadapan berbagai ancaman dan bahaya.

Tentu saja, selain merupakan sesuatu yang bersifat fitri, melawan dan menentang setiap bentuk agresi serta bahaya yang mengancam juga merupakan bagian yang sangat mendasar dari ajaran agama Allah SWT.

Allah tidak membiarkan hamba-Nya berdiam diri di hadapan bahaya yang mengancamnya. Allah tidak rela seorang mukmin membiarkan dirinya menjadi sasaran agresi tanpa upaya untuk melawan.

Karena itulah Allah SWT dalam banyak ayat Al-Qur’an menyebut persoalan perlawanan ini dengan berbagai istilah yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama. Allah terkadang menyebutnya dengan istilah ketangguhan, terkadang dengan istilah sabar.

Namun sabar yang dimaksud bukanlah sikap pasif sebagaimana sering disalahpahami oleh sebagian kaum Muslimin. Sabar adalah upaya aktif seseorang dengan penuh kegigihan dan keteguhan untuk menghadapi berbagai masalah dan bahaya yang mengancam.

Al-Qur’an juga menyebut konsep perlawanan dengan istilah jihad dan difa’, yakni membela diri. Semua konsep tersebut disebutkan dalam puluhan ayat Al-Qur’an.

Hal ini menunjukkan bahwa Allah sangat menekankan pentingnya setiap insan memiliki sikap keteguhan dalam menghadapi berbagai ancaman yang dapat menghancurkan kehormatannya, merusak martabatnya, merampas kemerdekaannya, membatasi kebebasannya dalam memilih keyakinan, bahkan memerangi berbagai nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadanya.

Perhatikan pula bahwa Allah tidak hanya menyeru individu, tetapi juga umat, bangsa, masyarakat, bahkan komunitas kecil sekalipun untuk mempersiapkan diri menghadapi ancaman.

Dalam salah satu ayat Al-Qur’an disebutkan: “Wa a‘iddu lahum mastatha‘tum min quwwah.” Artinya: Persiapkanlah bagi mereka segala kekuatan yang kalian mampu.

Ayat ini menegaskan bahwa setiap umat, setiap bangsa, setiap masyarakat, bahkan setiap komunitas terpanggil untuk mempersiapkan berbagai bentuk kekuatan dalam dirinya.

Kekuatan tersebut tidak hanya bersifat material, tetapi juga mencakup kekuatan spiritual, kekuatan ekonomi, kekuatan budaya, dan berbagai bentuk kekuatan lainnya.

Semua itu bukan dipersiapkan untuk melakukan agresi atau menyerang pihak lain, tetapi untuk mengantisipasi dan mempersiapkan diri menghadapi situasi sulit yang mungkin harus dihadapi.

Lalu mungkin muncul pertanyaan: mengapa setiap orang harus mampu melawan? Mengapa setiap komunitas harus memiliki kekuatan untuk mempertahankan dirinya?

Mengapa tidak berkompromi saja? Mengapa tidak memilih jalan aman di hadapan berbagai tekanan?

Salah satu tujuan terpenting dari Perlawanan dan Muqawamah adalah menjaga kehormatan dan martabat manusia.

Mereka yang memilih jalan aman dengan tunduk pada keinginan musuh karena ketidaksiapan untuk melawan pada akhirnya akan hidup dalam kehinaan.

Bangsa yang bahkan takut hanya karena ancaman tekanan ekonomi, misalnya melalui tarif impor atau tekanan politik, pada akhirnya akan tunduk dan diinjak-injak kehormatannya oleh bangsa lain dan oleh musuh-musuh kemanusiaan. Bangsa seperti itu tidak akan pernah mulia, tidak mulia di hadapan musuhnya, dan tidak pula mulia di hadapan bangsanya sendiri.

Dan itulah yang sering kita saksikan pada masa-masa seperti sekarang ini.

Seseorang atau bangsa yang memilih jalan kompromi dan tidak siap menghadapi tekanan musuh harus bersiap-siap untuk hidup dalam kehinaan.

Hal ini ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an ketika menyebutkan bahwa orang-orang yang menjadikan kaum kafir sebagai wali mereka, sebagai rujukan dan sebagai pihak yang menentukan arah hidup mereka, seolah-olah berharap mendapatkan kemuliaan dari mereka.

Padahal Allah menegaskan: “Walillahil ‘izzatu jami‘a.” Kemuliaan itu seluruhnya milik Allah.

Artinya, kemuliaan dan martabat hanya akan diberikan kepada mereka yang siap mempertahankan keyakinannya, mempertahankan kehormatannya, serta menjaga kedaulatan dirinya, bangsanya, dan negaranya di hadapan tekanan musuh.

Tidak ada jalan lain untuk hidup mulia dan bermartabat kecuali dengan kesiapan untuk melawan setiap bentuk tekanan.

Para pelayat yang bersedih dan berkabung atas kesyahidan Al-Imam Sayyid Ali Khamenei rahimakumullah.

Ketahuilah bahwa sosok Imam Ali Khamenei, sang syahid yang kita kenang pada malam hari ini, adalah pribadi yang menyandang begitu banyak keutamaan.

Beliau memiliki begitu banyak kebaikan dan kebajikan. Salah seorang ulama bahkan menyebut bahwa beliau adalah tatanan kebajikan itu sendiri, seolah-olah seluruh kebaikan terhimpun dalam dirinya.

Beliau menampilkan paket utuh dari berbagai keutamaan yang dapat dimiliki oleh seorang hamba, baik keutamaan personal, sosial, maupun keutamaan dalam kepemimpinan.

Keutamaan-keutamaan itu menjadikan beliau sebagai pribadi yang sangat istimewa di antara sekian banyak ulama yang bersama Al-Imam Ruhullah Al-Khomeini ridwanullahi ta‘ala ‘alaih berjuang menegakkan Revolusi Islam Iran.

Sistem yang Menjamin Kelangsungan Revolusi

Satu hal yang juga bisa menjadi pelajaran penting bagi kita semua adalah bahwa Imam Sayyid Ali Khamenei ridwanullahi ta‘ala ‘alaih termasuk di antara segelintir ulama yang sangat menekankan arti penting kerja-kerja kelembagaan.

Sejak sebelum Revolusi Islam Iran, ketika beliau berjuang bersama Al-Imam Ruhullah Al-Khomeini, hingga setelah kemenangan revolusi, baik ketika beliau menjabat sebagai Presiden Republik Islam Iran maupun sebelumnya sebagai anggota Dewan Revolusi, beliau terus memperjuangkan pembangunan kehidupan masyarakat yang bersifat sistemik.

Itulah yang diperjuangkan oleh Imam Sayyid Ali Khamenei. Beliau menghendaki hadirnya masyarakat dan umat Iran yang hidup tidak hanya mengandalkan besarnya pengaruh seorang pemimpin, dalam hal ini Imam Khomeini ridwanullahi ta‘ala ‘alaih, tetapi juga mengandalkan kekuatan sistem, kekuatan struktur, serta aturan-aturan yang jelas yang menjelaskan posisi setiap bagian dari masyarakat, sekaligus menjelaskan tanggung jawab dan kewenangan masing-masing.

Hal inilah yang menjadi perhatian dan fokus perjuangan Imam Sayyid Ali Khamenei bersama sejumlah ulama lainnya, tentu dalam rangka mendampingi Imam Khomeini ridwanullahu ta‘ala ‘alaihim ajma‘in.

Sejarah Revolusi Islam menunjukkan kepada kita bahwa pengaruh sosok pemimpin, yaitu Al-Imam Khomeini, sangat dominan dan sangat besar. Pada masa itu seluruh umat mendengar apa pun yang beliau inginkan dan menjalankan apa pun yang beliau perintahkan.

Apa artinya?

Artinya, jika Imam Khomeini menghendaki, beliau bisa menentukan segala sesuatu: mulai dari bentuk pemerintahan hingga tata kelola kehidupan masyarakat sesuai dengan keinginannya. Dan semua orang akan menerimanya. Karena secara nyata beliaulah sosok yang paling berpengaruh dan paling diterima oleh seluruh anggota masyarakat pada masa itu.

Ditambah lagi dengan kewenangan keagamaan yang beliau miliki sebagai seorang fakih yang diyakini sebagai wakil dan penerus kepemimpinan Sahibul ‘Ashr waz Zaman ‘ajjalallahu ta‘ala farajahus syarif.

Namun yang terjadi bukanlah demikian.

Kita tidak menyaksikan bahwa Imam Khomeini, yang memiliki pengaruh begitu besar dan kewenangan keagamaan yang sangat kuat, mengambil seluruh kewenangan itu untuk dirinya sendiri.

Sebaliknya, beliau justru menunjukkan kesiapan untuk berbagi kewenangan dengan banyak pihak di Iran.

Yang terjadi adalah beliau membangun sebuah organisasi besar bernama Republik Islam Iran, di mana kewenangan dibagi ke dalam berbagai lembaga negara.

Sebagian kewenangan diberikan kepada badan legislatif, sebagian kepada badan yudikatif, dan sebagian kepada badan eksekutif, yang pada hakikatnya semua itu adalah kewenangan yang sebenarnya bisa saja berada di tangan beliau sebagai pemimpin revolusi.

Selain itu, didirikan pula berbagai lembaga yang menjadi kekhasan Republik Islam Iran, seperti Garda Konstitusi, Majelis Ahli, serta Dewan Penentu Kemaslahatan, dan berbagai lembaga lainnya.

Melalui lembaga-lembaga tersebut, melalui kerangka sistem yang dibangun itu, Imam Khomeini berbagi kewenangan dan membagi tanggung jawab kepada berbagai institusi yang ada. Beliau tidak mengambil seluruh pengaruh dan kewenangan itu untuk dirinya sendiri.

Kita perlu memahami bahwa tatanan kepemimpinan dalam Islam pada hakikatnya merupakan kombinasi dari dua kekuatan.

Yang pertama adalah kekuatan individu pemimpin, yaitu individu yang memiliki kualifikasi tertinggi dalam hal pengetahuan, moralitas, keberanian, kemampuan manajerial, wawasan politik, dan berbagai kemampuan lainnya.

Seorang pemimpin memang harus memiliki kualitas individu yang unggul agar mampu memimpin masyarakatnya.

Namun kepemimpinan tidak hanya bergantung pada kekuatan individu.

Pada saat yang sama, dalam tatanan kepemimpinan Islam juga sangat ditekankan kekuatan sistem. Artinya, pemimpin dengan segala kelebihan dan kualifikasinya tetap bergerak dalam kerangka sistem yang disepakati.

Ada aturan yang mengatur posisi struktural masing-masing. Ada prosedur yang menentukan kewenangan berbagai institusi serta pihak-pihak lain dalam kehidupan masyarakat.

Itulah yang dijalankan oleh Revolusi Islam Iran ketika telah mencapai puncaknya setelah kemenangan revolusi. Apa yang dilakukan oleh Imam Khomeini adalah membangun masyarakat yang sistemik, bukan masyarakat yang hanya bergantung pada besarnya pengaruh dan kualifikasi individu seorang pemimpin.

Dalam rangka kita bersyukur di hari-hari ini, meskipun kita semua masih bersedih karena kepergian sosok agung Al-Imam Sayyid Ali Khamenei, hati kaum mukminin sedikit merasa lega.

Mengapa?

Karena kurang dari 24 jam sejak peristiwa kesyahidan beliau, estafet kepemimpinan telah berpindah dan dilanjutkan oleh sebuah dewan kepemimpinan. Hal ini terjadi berkat sistem yang dibangun oleh Al-Imam Ruhullah Al-Khomeini dan kemudian diperjuangkan serta diperkuat oleh Imam Sayyid Ali Khamenei.

Dewan kepemimpinan tersebut menjalankan fungsi kepemimpinan sementara hingga terpilihnya pemimpin yang secara definitif akan menjadi pengganti beliau dan akan memegang amanah sebagai Waliyyu Amril Muslimin bagi umat Islam serta bagi bangsa Iran pada khususnya.

Sistem ini berjalan sehingga tidak terjadi kekosongan kekuasaan pada saat negara harus berhadapan dengan agresi besar yang dilakukan oleh kekuatan dunia yang diwakili oleh Amerika Serikat dan Israel.

Apabila sistem tersebut tidak ada, teman-teman sekalian, maka negeri ini bisa saja mengalami kehancuran.

Namun hati kita menjadi lebih lega ketika mengetahui bahwa estafet kepemimpinan, meskipun dalam bentuk sementara, telah dijalankan oleh sebuah dewan yang terdiri dari Presiden, Ketua Lembaga Yudikatif, serta seorang fakih dari Dewan Garda Konstitusi untuk menjalankan fungsi kepemimpinan.

Sementara itu, para anggota Majelis Ahli akan menentukan waktu dan mekanisme yang tepat untuk memilih pemimpin definitif yang akan melanjutkan kepemimpinan setelah Al-Imam Sayyid Ali Khamenei.

Ini merupakan sesuatu yang patut kita syukuri bersama.

Imam Sayyid Ali Khamenei, dengan seluruh keagungan pribadinya, dengan seluruh kebesaran dan kecintaan yang dimiliki oleh para pengikut serta pencintanya, memang merupakan sosok yang sangat besar.

Namun kebesaran beliau bukan semata-mata terletak pada kualitas pribadi beliau.

Memang benar, pribadi beliau sangat agung dan sangat besar. Akan tetapi, di balik sosok yang besar itu juga terdapat sistem yang kuat dan solid yang menjamin keberlangsungan gerakan ini hingga kapan pun.

Sistem itulah yang memastikan bahwa bangsa ini dapat terus menghadapi musuh-musuhnya tanpa terganggu oleh kekosongan kekuasaan di dalam negerinya.

Hal ini pada hakikatnya juga merupakan pelajaran penting bagi kita semua, ikhwan dan akhwat sekalian.

Bahwa kita, meskipun hanya sebagai komunitas kecil, juga harus mulai membangun sistem yang kuat di tengah komunitas kita.

Kita tentu membutuhkan pribadi-pribadi besar, pribadi-pribadi yang memiliki kualifikasi luar biasa. Hal itu memang kita butuhkan.

Namun pada saat yang sama, kita juga membutuhkan sistem yang mampu menjamin kelangsungan dan keberlanjutan komunitas kita.

Karena itu, marilah kita bersama-sama mengambil pelajaran penting ini untuk kita terapkan di tengah komunitas kita.

Melanjutkan Jalan Perjuangan

Di akhir ceramahnya, Ustadz Zahir Yahya mengajak umat Islam untuk melanjutkan jalan perjuangan yang telah dirintis oleh para pemimpin dan para syuhada.

Beliau menegaskan bahwa perjuangan tidak boleh bergantung pada satu sosok individu, melainkan pada nilai dan prinsip yang diyakini bersama.

Panji Perlawanan Tidak Akan Jatuh

Roh sang legenda perlawanan, jiwa dari bangsa Iran dan dari umat Islam di seantero dunia, kini telah meninggalkan kita. Ia telah terbang menuju surga yang tertinggi dan meninggalkan umat ini dalam duka cita yang sangat mendalam.

Beliau telah kembali ke sisi Tuhannya, dan kini kitalah yang tertinggal. Kita yang tertinggal.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Kita semua harus menyadari bahwa kini adalah giliran kita untuk melanjutkan perjalanan yang telah diikhtiarkan oleh para pemimpin dan para syuhada mulia.

Kita harus menunjukkan kepada dunia, kepada musuh-musuh, kepada mereka yang memiliki niat jahat terhadap Islam dan terhadap bangsa ini, bahwa kita bukan umat yang mati. Kita bukan bangsa yang bergantung semata-mata kepada pribadi-pribadi.

Kita adalah umat yang meyakini nilai-nilai. Kita adalah umat yang meyakini prinsip-prinsip kebenaran yang akan terus kita perjuangkan.

Kita harus menyampaikan kepada dunia bahwa jalan yang pernah ditempuh oleh Asy-Syahid Imam Sayyid Ali Khamenei tidak akan pernah berhenti. Panji yang pernah beliau kibarkan tidak akan pernah jatuh ke bumi.

Karena kita semua, para pengikut dan para pecintanya, tidak akan pernah mengizinkan hal itu terjadi.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan kekuatan kepada kita semua, kepada umat Islam, untuk tetap menjaga kekompakan dan persatuan mereka, serta memberi kemampuan kepada kita untuk melanjutkan jalan perjuangan ini.

Ceramah tersebut ditutup dengan doa agar Allah SWT memberikan kekuatan kepada umat Islam untuk menjaga persatuan dan memenangkan mereka dalam menghadapi musuh-musuh kemanusiaan. [HMP/ABI]