Pendidikan
#Podcast | Al-Quds Day Tahun Ini Beda! Kontroversi BOP hingga Eskalasi Timur Tengah Jadi Sorotan
Jakarta, 6 Maret 2026 — Peringatan Al-Quds Day tahun ini diperkirakan berlangsung dalam suasana yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain karena penyesuaian jadwal pelaksanaan, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta polemik mengenai keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BOP) turut mewarnai diskusi publik menjelang momentum solidaritas terhadap Palestina.
Isu tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam podcast Channel Media ABI yang tayang pada 1 Maret 2026. Dalam episode bertajuk “Al-Quds Day Tahun Ini Beda! Kontroversi BOP & Dukungan Palestina”, host Billy Joe berbincang dengan pengamat geopolitik sekaligus aktivis Poros Perlawanan dari Balikpapan, Alamsyah Manu, mengenai dinamika terbaru perjuangan Palestina serta posisi Indonesia di tengah perkembangan geopolitik global.
Dalam perbincangan itu dijelaskan bahwa secara tradisional Hari Al-Quds diperingati setiap Jumat terakhir di bulan Ramadan. Namun pada tahun ini, tanggal tersebut jatuh sangat dekat dengan Hari Raya Idul Fitri.
Karena itu, sejumlah penyelenggara kegiatan memutuskan memajukan peringatan menjadi Jumat ketiga Ramadan agar partisipasi masyarakat tetap maksimal di tengah kesibukan menjelang Lebaran.
Perubahan waktu tersebut dinilai sebagai langkah penyesuaian agar momentum solidaritas terhadap Palestina tetap dapat tersampaikan secara luas.
Timur Tengah Memanas, Iran Jadi Sorotan
Selain perubahan jadwal, peringatan Al-Quds tahun ini juga berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Dalam diskusi tersebut disebutkan bahwa eskalasi militer di kawasan tersebut semakin meningkat. Bahkan menurut laporan yang beredar saat diskusi berlangsung, sejumlah kota di Iran dilaporkan mengalami serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ledakan disebut terdengar di beberapa wilayah seperti Teheran, Karaj, Kermanshah, dan Qom.
Perkembangan semacam ini, menurutnya, sebenarnya telah lama diprediksi oleh para analis geopolitik yang memperkirakan bahwa konflik terbuka di kawasan Timur Tengah suatu saat akan kembali meningkat.
Situasi tersebut membuat peringatan Al-Quds tahun ini berlangsung dalam konteks geopolitik yang jauh lebih tegang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kontroversi Board of Peace dan Sikap Indonesia
Selain perkembangan di Timur Tengah, diskusi juga menyoroti polemik mengenai keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BOP).
Kebijakan tersebut memunculkan perdebatan di kalangan aktivis, akademisi, dan pengamat hubungan internasional. Sejumlah pihak menilai langkah tersebut berpotensi membuka jalan menuju normalisasi hubungan dengan Israel.
Baca juga : Ustadz Zahir Yahya: Kesyahidan Imam Ali Khamenei Membuka Babak Baru Perlawanan Umat
Jika disebut sebagai upaya menciptakan perdamaian, menurutnya, sebagian kalangan justru memandangnya sebagai bentuk legitimasi terhadap penjajahan.
Ia juga menyinggung informasi mengenai kemungkinan pengiriman personel militer Indonesia ke Gaza dalam kerangka inisiatif tersebut.
Langkah itu dinilai menimbulkan pertanyaan mengenai kesesuaiannya dengan prinsip konstitusi Indonesia yang sejak awal berdiri menolak segala bentuk penjajahan.
Selama bertahun-tahun, sikap pemerintah Indonesia terhadap Palestina relatif sejalan dengan aspirasi masyarakat. Namun perkembangan terbaru menunjukkan munculnya perbedaan pandangan antara sebagian kelompok masyarakat sipil dan kebijakan pemerintah.
Kondisi semacam ini, menurutnya, bukan hal yang sepenuhnya asing dalam sistem demokrasi. Dalam banyak negara, kebijakan pemerintah tidak selalu identik dengan pandangan masyarakat.
Karena itu masyarakat dinilai tetap memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi melalui berbagai saluran yang tersedia.
Peran Iran dalam Perlawanan Palestina
Diskusi tersebut juga menyoroti peran Republik Islam Iran dalam dinamika perjuangan Palestina.
Selama ini kontribusi Iran dinilai tidak banyak dibahas secara luas dalam pemberitaan media nasional. Padahal sejumlah tokoh perlawanan Palestina disebut secara terbuka menyampaikan apresiasi atas dukungan tersebut.
Dukungan itu disebut mencakup berbagai aspek seperti bantuan militer, dukungan teknologi, hingga bantuan kemanusiaan. Kontribusi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kemampuan kelompok perlawanan di Gaza untuk bertahan dalam konflik yang berlangsung lama.
Tema yang diangkat dalam peringatan Al-Quds tahun ini, yakni “Stop Normalisasi Berkedok Perdamaian”, juga berkaitan dengan kekhawatiran terhadap berbagai inisiatif internasional yang dinilai berpotensi membuka jalan menuju normalisasi hubungan dengan Israel tanpa menyelesaikan akar persoalan penjajahan Palestina.
Seruan Aksi Publik dan Solidaritas Palestina
Di akhir diskusi, ia juga mengajak masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi dalam berbagai bentuk kegiatan yang berkaitan dengan peringatan Al-Quds Day. Partisipasi tersebut dapat dilakukan melalui aksi publik, kampanye media sosial, maupun bentuk advokasi lainnya.
Selain itu, ia juga menyinggung gagasan mengenai gerakan boikot terhadap produk-produk yang dianggap memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat atau Israel. Sebagai alternatif, masyarakat didorong untuk memperkuat ekonomi lokal dengan mendukung usaha kecil dan menengah di dalam negeri. Langkah tersebut dipandang sebagai bentuk ekspresi solidaritas terhadap Palestina sekaligus upaya memperkuat ekonomi nasional.
Menurutnya, Al-Quds Day bukan hanya milik kelompok tertentu, melainkan simbol solidaritas bagi masyarakat dunia yang menolak penindasan terhadap bangsa mana pun.
Momentum tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik mengenai situasi yang dihadapi rakyat Palestina sekaligus memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai keadilan internasional. [HMP]
Baca juga : Ustadz Zahir Yahya: Perlawanan Warisan Terbesar Imam Ali Khamenei
