Ikuti Kami Di Medsos

Keluarga

Ujian di Lingkaran Terdekat: Membaca Makna “Musuh” dalam Surah At-Taghabun

Published

on

Gambar ilustrasi: (Kredit: tafsiralquran)

Ahlulbait Indonesia | 27 Februari 2026 — Seorang profesional mengetahui laporan keuangan perusahaannya dimanipulasi. Angka-angka laporan dipoles agar terlihat sehat di mata investor. Jika dia bersuara, kariernya akan terancam. Jika memilih diam, integritasnya akan runtuh.

Bukan persoalan kompetensi, melainkan persoalan integritas. Di rumah, sang istri mengingatkan, “Kita masih punya cicilan. Anak-anak butuh biaya sekolah, dan berbagai keperluan lainnya.”

Kalimat sang istri itu sangat wajar. Penuh kepedulian. Namun di titik itulah dilema moral bermula.

Di era ini, keluarga kerap dijadikan legitimasi paling ampuh untuk berkompromi. Demi stabilitas rumah tangga, prinsip dilenturkan dan keberanian ditangguhkan. Tidak jarang, yang dikorbankan justru kebenaran itu sendiri.

Dalam konteks semacam itu, peringatan Al-Qur’an terasa relevan:

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (QS. At-Taghabun: 14)

Ayat ini tidak meruntuhkan keluarga. Islam menempatkan rumah sebagai ruang ketenangan dan pilar kesempurnaan. Namun wahyu mengungkap satu kemungkinan yang kerap luput dibicarakan, yakni relasi paling dekat pun dapat menggeser arah hidup seseorang.

Ayat ini berbicara tentang konflik loyalitas, bukan konflik perasaan.

Para mufasir menjelaskan, ayat tersebut turun ketika sebagian sahabat berencana berhijrah dari Makkah ke Madinah. Hijrah merupakan perintah Ilahi yang disampaikan melalui Nabi-Nya yang mulia. Harta, rasa aman, dan kenyamanan harus ditinggalkan demi mempertahankan keyakinan.

Sebagian keluarga belum siap memikul konsekuensinya. Tangisan dan kegelisahan menahan langkah. Dalam riwayat yang dicatat dalam Tafsir al-Qurthubi, tekanan emosional itu membuat sebagian orang membatalkan keberangkatan.

Dalam tafsir tersebut digunakan istilah “sebagian”. Yang diperingatkan bukan identitas keluarga, melainkan potensi relasi menjadi penghalang ketika orientasi hidup bergeser. Permusuhan yang dimaksud bukan kebencian yang tampak terang-terangan. Wujudnya lebih halus: cinta yang melunakkan komitmen, rasa aman yang mengaburkan keberanian, serta kenyamanan yang menangguhkan kewajiban.

Dalam contoh profesional tadi, sang istri tentu tidak berniat buruk. Namun ketika kecemasan mendorong pembiaran atas ketidakjujuran, cinta telah bergeser dari fungsinya yang semestinya.

Kejelasan Prioritas

Di tempat lain, harta dan anak disebut sebagai fitnah sekaligus ujian. Keduanya kerap hadir melalui hal-hal yang menyenangkan dan terasa pantas untuk dipertahankan. Keluarga adalah anugerah, dan setiap anugerah merupakan amanah yang wajib dijaga. Manusia modern tidak kekurangan cinta; yang kerap hilang justru kejelasan prioritas.

Ketika keluarga menguatkan komitmen terhadap kebenaran, relasi itu menjadi rahmat. Namun saat keluarga justru mendorong kompromi atas nilai yang lebih tinggi, di sanalah fitnah dan ujian bekerja.

Perbedaannya bukan terletak pada besarnya cinta, kasih sayang, atau keterikatan. Semua itu dapat sangat dalam dan tulus. Namun kedalaman emosi tidak dengan sendirinya menjadikannya benar secara etis.

Pada akhirnya, ayat ini tidak sedang membenturkan iman dengan keluarga, melainkan menata ulang hirarki kesetiaan dalam diri manusia. Relasi terdekat bisa menjadi rahmat yang menguatkan langkah, atau menjadi ujian yang mengaburkan arah.

Di titik itulah kualitas iman diuji: apakah cinta ditempatkan sebagai penguat kebenaran, atau sebagai alasan untuk menegosiasikannya. Di situlah iman tidak diukur oleh retorika, melainkan oleh keberanian menentukan posisi.

Surah At-Taghabun tidak mengajarkan jarak dari keluarga, melainkan kejernihan orientasi. Sebab yang menentukan bukan siapa yang kita cintai, melainkan kepada nilai mana cinta itu diarahkan. [HMP/MT]

Referensi: Morteza Motahhari, Be Ashnayi ba Qor’an, jilid 7, hlm. 172.

Continue Reading