Daerah
Ustadz Ahmad Alaydrus: Enam Pelajaran Kesyahidan Imam Ali Khamenei untuk Menguatkan Jiwa dan Arah Perjuangan
Pasuruan, 10 April 2026 — Peringatan 40 hari kesyahidan Imam Ali Khamenei di Yayasan Ulul Albab, Kota Pasuruan, tidak berhenti pada seremoni mengenang. Forum ini diarahkan sebagai ruang refleksi strategis untuk merumuskan kekuatan spiritual dan orientasi perjuangan di tengah tekanan global yang terus mengeras.
Dalam kajian tersebut, Ustadz Ahmad Alaydrus, Wakil Ketua DPW Ahlulbait Indonesia Jawa Timur, menegaskan bahwa kesyahidan bukan hanya peristiwa kehilangan, melainkan sumber nilai yang hidup dan terus menggerakkan.
Merujuk pada Surat Ali Imran ayat 169, Ustadz Ahmad menempatkan kesyahidan sebagai puncak kemuliaan yang dijanjikan Allah SWT. Dari pijakan itu, pembahasan diarahkan pada enam pelajaran utama yang dapat ditarik dari perjalanan Imam Ali Khamenei dan bangsa Iran.

Pertama, kemampuan mengubah ancaman menjadi peluang. Tekanan global dan boikot berkepanjangan, menurutnya, tidak otomatis melahirkan kelemahan. “Iran justru menunjukkan bahwa tekanan dapat dikonversi menjadi energi kemandirian, khususnya di bidang sains, teknologi, dan kedokteran. Ancaman diolah menjadi akselerator pertumbuhan”, terangnya.
Kedua, integrasi antara iman dan kesiapan maksimal. Menurut Ustadz Ahmad, perjuangan tidak cukup ditopang oleh keimanan semata. Iran memberikan contoh bagaimana iman harus berjalan paralel dengan perencanaan strategis, kesabaran operasional, serta kapasitas teknis, termasuk dalam pengembangan pertahanan. “Kombinasi ini menjadi fondasi yang menentukan daya tahan sebuah bangsa”, jelasnya.
Ketiga, kedekatan dengan Al-Qur’an sebagai pusat orientasi. Dalam berbagai kondisi, Al-Qur’an ditempatkan sebagai sumber kekuatan utama. Ustadz Ahmad menuturkan bahwa dalam riwayat kesyahidan Imam Ali Khamenei, beliau berada dalam keadaan membaca ayat suci. Hal ini menegaskan posisi Al-Qur’an sebagai jangkar spiritual dalam perjuangan.
Keempat, disiplin menjaga salat di awal waktu. Teladan ini merujuk pada peristiwa Karbala bersama Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib, di mana ibadah tetap ditegakkan di tengah situasi perang. “Disiplin dalam menjaga salat menjadi pondasi penting dalam membangun keteguhan jiwa,” ujarnya.
Kelima, konsistensi dalam perjuangan kemerdekaan Palestina. Komitmen tersebut dipandang sebagai bentuk keberpihakan terhadap keadilan yang melampaui batas geografis. “Perjuangan ini bukan tanggung jawab satu bangsa, tetapi panggilan bagi seluruh umat yang berpihak pada kebenaran,” tegasnya.
Keenam, membangun persatuan di atas prinsip keadilan. Persatuan, menurutnya, menjadi kekuatan utama selama berpijak pada sikap menolak penindasan. Ustadz Ahmad menekankan pentingnya menjaga kasih sayang dan kebersamaan tanpa terjebak pada perbedaan, selama berada dalam barisan yang sama melawan ketidakadilan. “Imam Ali Khamenei menekankan pentingnya menjaga kasih sayang dan kebersamaan tanpa memandang perbedaan, selama berada di pihak yang menolak penindasan”, terangnya.
Enam pelajaran tersebut menegaskan bahwa kesyahidan bukan akhir, melainkan sumber energi nilai yang terus bekerja. Nilai itu mencakup ketahanan menghadapi tekanan, penguatan iman, disiplin ibadah, serta ketegasan dalam menentukan posisi terhadap ketidakadilan global.
Peringatan ini pada akhirnya mengarah pada satu kesimpulan praktis, bahwa perjuangan tidak selalu dimulai dari medan besar, tetapi dari keteguhan sikap dalam kehidupan sehari-hari. Dari ruang-ruang kecil itulah arah besar peradaban dibangun. [HMP Kota Pasuruan]
