Daerah
Dari Jalanan Surabaya: Agresi AS–Israel atas Iran Membuka Mata Dunia
Surabaya, 14 Maret 2026 — Hujan turun membasahi kawasan depan Gedung Negara Grahadi ketika ribuan orang tetap bertahan di jalanan pusat Kota Surabaya. Di tengah kerumunan itu, seorang anak kecil berdiri di samping ayahnya sambil memegang bendera Palestina yang hampir sebesar tubuhnya.
Bendera itu berkibar di bawah rintik hujan sore, menjulang di atas lautan manusia yang memenuhi jalanan. Mahasiswa, aktivis, tokoh agama, hingga keluarga yang datang bersama anak-anak mereka berdiri berdampingan, sebagian mengenakan jas hujan, sebagian lagi hanya meneduh di balik spanduk dan bendera yang mereka bawa.
Takbir menggema dari berbagai sudut kerumunan. Poster-poster kecaman terhadap Amerika Serikat dan Israel terangkat tinggi, sementara bendera Palestina, Indonesia, dan Iran berkibar di atas massa yang terus berdatangan sejak siang hari.
Sore itu, jalanan di depan Grahadi berubah menjadi panggung solidaritas global. Ribuan orang berkumpul dalam aksi damai memperingati Hari Al-Quds Sedunia, momentum yang setiap tahun digelar pada Jumat terakhir bulan Ramadan untuk menyuarakan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Di Surabaya, peringatan tersebut tidak hanya berbicara tentang Palestina, juga menjadi ruang bagi masyarakat sipil untuk menyampaikan kritik terhadap dinamika geopolitik yang lebih luas di Timur Tengah, terutama setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Momentum Global dari Timur Tengah ke Surabaya
Sekitar 2.000 peserta dari berbagai organisasi masyarakat dan mahasiswa memadati lokasi aksi. Mereka berasal dari Komite Umat Islam Anti Amerika–Israel (KUMAIL), Aliansi Nasional Anti Zionis (ANAZ), serta Komite Aliansi Mahasiswa Pro Palestina Anti USA–Zionis (KAMPUZ).
Massa mulai berkumpul sejak pukul 14.00 WIB, bertepatan dengan Jumat terakhir bulan Ramadan, hari yang secara global diperingati sebagai Hari Al-Quds.
Momentum tersebut pertama kali digagas oleh Imam Khomeini setelah Revolusi Islam Iran sebagai simbol solidaritas internasional terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Namun di Surabaya, peringatan tersebut berkembang menjadi ruang bagi masyarakat sipil untuk menyuarakan sikap terhadap dinamika geopolitik yang lebih luas di Timur Tengah, terutama setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Tiga Tuntutan Utama
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan tiga tuntutan utama.
Pertama, menolak agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dinilai melanggar kedaulatan negara serta berpotensi memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.
Kedua, menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan penuh Palestina sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan. Para peserta menegaskan bahwa kemerdekaan merupakan hak setiap bangsa sebagaimana prinsip universal hak menentukan nasib sendiri.
Ketiga, mendesak pemerintah Indonesia keluar dari forum Board of Peace (BoP).
Menurut para peserta, forum tersebut tidak lagi dipandang sebagai ruang diplomasi netral, melainkan instrumen geopolitik Barat yang berpotensi melegitimasi operasi militer di kawasan Timur Tengah.
Bagi mereka, keterlibatan Indonesia dalam forum tersebut berpotensi menggerus prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi fondasi diplomasi Indonesia.

Orasi yang Menggugah Massa
Di tengah hujan yang masih turun, suara orator kembali menggema dari atas mobil komando. Ustadz Zahir Yahya berdiri di hadapan ribuan massa yang memadati jalanan, sementara takbir sesekali terdengar dari kerumunan.
Sebelum memulai pidatonya, beliau memimpin yel-yel yang segera disambut oleh massa. “Mampus Amerika! Mampus Israel! Hidup Indonesia! Hidup Iran!”
Teriakan itu bergema di antara bendera Palestina yang berkibar di bawah langit Surabaya yang mulai meredup.
Dalam orasinya, Ustadz Zahir menilai peringatan Hari Al-Quds tahun ini memiliki makna yang berbeda karena berlangsung di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah, terutama setelah agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. “Yaumul Quds tahun ini terasa sangat berbeda bagi umat Islam di seluruh dunia,” ujarnya. “Momentum ini bertepatan dengan agresi kekuatan imperialis dan zionis terhadap negara merdeka bernama Republik Islam Iran.”
Beliau menyoroti jatuhnya korban sipil dalam serangan tersebut, mulai dari anak-anak sekolah hingga masyarakat yang tengah menjalani aktivitas sehari-hari di bulan suci Ramadhan. Selain korban jiwa, juga menyebut kerusakan berbagai fasilitas sipil dan publik, termasuk rumah sakit, dinas pemadam kebakaran, gedung pemerintahan, hingga fasilitas penyimpanan bahan bakar yang digunakan masyarakat.
Namun menurutnya, agresi tersebut justru membuka mata masyarakat dunia terhadap realitas politik global. “Peristiwa ini membuat banyak bangsa merdeka menyadari betapa keras dan kotornya praktik imperialisme dunia ketika bersanding dengan zionisme internasional,” ujarnya.
Ustadz Zahir juga mengkritik sikap sejumlah pemimpin negara yang menurutnya masih bersedia menjalin hubungan politik dengan Israel melalui proses normalisasi diplomatik.
Menurutnya, banyak negara yang pada awalnya mengklaim normalisasi tersebut bertujuan memperjuangkan perdamaian dan membantu Palestina. Namun dalam praktiknya, kebijakan tersebut justru memperkuat posisi Israel di kawasan. “Alih-alih memperjuangkan perdamaian, mereka justru menjadi penjaga kepentingan zionis di kawasan,” katanya. Beliau bahkan menilai negara-negara yang melakukan normalisasi tidak mampu memberikan bantuan nyata kepada rakyat Palestina yang hidup di bawah blokade dan pendudukan.
Dalam bagian lain pidatonya, Ustadz Zahir menyinggung kesalahan perhitungan Amerika Serikat dalam menghadapi Iran. Menurutnya, Washington semula mengira tekanan militer, termasuk pengerahan kapal induk dan kekuatan tempur ke kawasan, akan membuat kepemimpinan Iran mundur. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Menurutnya, Iran tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah meskipun berada di bawah tekanan militer yang besar. “Ancaman militer tidak membuat Iran mundur. Justru mereka menunjukkan kesiapan untuk mempertahankan kedaulatan negaranya,” ujarnya.
Ustadz Zahir juga menyinggung syahidnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, yang menurutnya tidak mematahkan semangat masyarakat Iran. Beliau mengutip slogan yang hingga kini tetap disuarakan rakyat Iran sebelum dan setelah wafatnya pemimpin tersebut.
“Allah Pelindung Kami, Khamenei Pemimpin Kami.” Slogan tersebut menurut Ustadz Zahir menunjukkan, semangat perlawanan tidak berhenti meskipun seorang pemimpin telah gugur.
Di akhir pidatonya, Ustadz Zahir menyampaikan pesan, sejarah menunjukkan kemerdekaan suatu bangsa hanya dapat dipertahankan melalui sikap perlawanan terhadap penjajahan dan tekanan asing. “Jika sebuah bangsa ingin hidup merdeka dan bermartabat, maka ia harus berani melawan segala bentuk penjajahan,” katanya.
Pidato ditutup dengan seruan yang disambut takbir dan yel-yel dari ribuan peserta aksi.
“Hidup Indonesia! Merdeka Indonesia! Bermartabat Indonesia!” Tak lama setelah itu, massa kembali meneriakkan slogan yang sejak awal aksi terus menggema di kawasan Grahadi.
“Mampus Amerika! Mampus Israel!”
Takbir pun kembali menggema dari kerumunan massa yang memenuhi jalanan di depan Grahadi.

Keyakinan Spiritual dalam Perlawanan
Sementara itu, Ustadz Abdillah Baabud dalam orasinya mengisahkan sebuah peristiwa di awal Revolusi Islam Iran yang menunjukkan keyakinan kuat terhadap kekuasaan Tuhan.
Beliau menceritakan ketika Imam Khomeini pernah ditanya apakah ia takut menghadapi kekuatan Barat yang siap melawannya.
Menurutnya, Imam Khomeini menjawab dengan tegas bahwa ia tidak merasa takut. “Beliau mengatakan, jika aku mengetahui ada yang lebih besar dari Allahu Akbar, mungkin aku akan merasa takut,” ujarnya.
Menurut Ustadz Abdillah, keyakinan spiritual tersebut menjadi salah satu sumber kekuatan dalam menghadapi tekanan politik global.
Takbir yang terus menggema setelah orasi itu perlahan mereda, tetapi semangat massa di depan Gedung Negara Grahadi belum surut. Di bawah langit Surabaya yang mulai beranjak senja, para peserta aksi tetap bertahan di jalanan.
Di antara kerumunan, beberapa peserta mulai menyiapkan rangkaian aksi simbolik. Spanduk-spanduk digelar, sementara sebagian massa membentuk lingkaran untuk menyaksikan pertunjukan teatrikal yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Teatrikal dan Longmarch
Aksi damai tersebut berlangsung dalam suasana penuh semangat. Massa tetap mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai. Selain orasi, peserta juga menampilkan teatrikal politik yang menggambarkan penderitaan rakyat Palestina.
Dalam aksi simbolik tersebut, massa juga membakar patung Baal sebagai simbol penolakan terhadap kekuatan yang dianggap menindas. Massa kemudian menutup aksi dengan doa bersama dan melanjutkan aksi dengan longmarch menuju Jalan Walikota Mustajab sebagai bagian dari penyampaian aspirasi secara damai.
Suara dari Jalanan Surabaya
Ketika senja mulai turun di Surabaya, massa perlahan membubarkan diri dengan tertib. Namun bagi para peserta aksi, pertemuan di jalanan Surabaya sore itu bukan hanya demonstrasi. Ini merupakan bagian dari suara global yang terus bergema dari berbagai kota dunia, sebuah pengingat bahwa perjuangan rakyat Palestina untuk kemerdekaan masih menjadi salah satu isu paling panjang dalam sejarah politik modern Timur Tengah. []
Laporan dari Surabaya oleh Muh Bagir dan Ali H






