Kegiatan ABI
DPP ABI Petakan Peluang Koperasi Komunitas dalam Audiensi dengan Kementerian Koperasi
Jakarta, 11 April 2026 — Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI) memulai konsolidasi awal ekonomi komunitas dengan menjajaki skema pengembangan koperasi melalui audiensi bersama Kementerian Koperasi Republik Indonesia. Pertemuan ini difokuskan pada pemetaan peluang dan penggalian informasi strategis terkait pengembangan koperasi bagi organisasi kemasyarakatan.
Audiensi di Gedung Kementerian Koperasi pada Jumat, (10/4/26), dihadiri Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi, Destry Anna Sari, bersama jajaran. Dari DPP ABI hadir Wakil Bendahara Umum Fatahuddin S. Massinai, Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi (PE) Ali Reza Baraqbah bersama Wakil Hilmi Dhiya Ulhaq, Ketua Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Fahmi Shahab, Ketua Departemen Humas, Media & Penerangan (HMP) Muhlisin Turkan, serta perwakilan Pimpinan Nasional Muslimah ABI, Aminah Assegaf dan Euis Supriati.

Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi DPP ABI, Ali Reza Baraqbah, menegaskan langkah ini sebagai bagian dari konsolidasi berbasis data dan pemahaman kebijakan. Fokus diarahkan pada identifikasi model koperasi yang relevan bagi komunitas serta batas peran organisasi dalam ekosistem tersebut.
Kementerian Koperasi merespons dengan memaparkan ruang dukungan yang dapat diakses komunitas, mencakup pengembangan sumber daya manusia, penguatan kelembagaan, dan peningkatan daya saing. Sektor produk halal dinilai memiliki prospek kuat bagi koperasi berbasis komunitas keagamaan. Kementerian juga menekankan pentingnya kesiapan organisasi dan kejelasan model usaha.
Sementara itu Wakil Bendahara Umum Fatahuddin, selain menjelaskan profil singkat ABI beserta Lembaga Otonom, juga menegaskan bahwa jaringan komunitas ABI di berbagai daerah menjadi modal awal dalam konsolidasi ekonomi. Peran yang diambil difokuskan pada pendampingan komunitas dalam membangun dan mengelola koperasi secara mandiri, bukan pada pendirian langsung oleh organisasi.
Hilmi Dhiya Ulhaq memaparkan potensi ekonomi anggota yang telah tumbuh di sejumlah sektor, antara lain pendidikan, kesehatan, teknologi informasi, industri pengolahan, dan konstruksi. Potensi tersebut masih tersebar dan memerlukan konsolidasi agar memiliki daya dorong yang lebih kuat.
Pada aspek teknis, Kementerian Koperasi menjelaskan ketersediaan pelatihan, pendampingan, serta akses pembiayaan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dengan skema pinjaman lunak. Fasilitas pembelajaran digital juga disiapkan untuk mendukung pemahaman dasar terkait koperasi.
Dari sisi pasar, peluang dinilai terbuka dengan syarat konsistensi produk unggulan dari sisi kualitas dan kapasitas produksi. Sektor yang berpotensi mencakup busana muslim, proyek pembangunan rumah subsidi, serta distribusi hasil perkebunan.
Audiensi ini menjadi pijakan awal dalam proses konsolidasi ekonomi komunitas ABI. Tahap berikutnya diarahkan pada pendalaman teknis dan perumusan pendekatan yang sesuai sebelum masuk ke fase pengembangan yang lebih terstruktur.[]
