Ikuti Kami Di Medsos

Kegiatan ABI

Dalam Forum ABI–BRIN, Najib Azca Tekankan Wawasan Keberagaman sebagai Kunci Harmoni Kehidupan Berbangsa

Published

on

Jakarta, 6 Februari 2026 — Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora Badan Riset dan Inovasi Nasional, Dr. Muhammad Najib Azca, M.A., Ph.D., menekankan penguatan dialog serta wawasan keberagaman sebagai fondasi kehidupan berbangsa saat menyampaikan keynote address dalam seminar dan bedah buku Beragama Maslahat. Kegiatan digelar Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional dalam rangka Milad ke-16 ABI, Kamis (5/2), di Gedung Widya Graha BRIN, Jakarta Selatan.

Forum tersebut mempertemukan unsur akademisi, tokoh agama, peneliti, serta masyarakat umum dalam ruang diskusi terbuka mengenai praktik keberagamaan yang berorientasi pada kemaslahatan sosial. Kehadiran lintas unsur mencerminkan kebutuhan memperluas percakapan publik mengenai relasi agama, masyarakat, dan kebangsaan.

Dalam pemaparannya, Najib Azca menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang mendorong dialog konstruktif antar kelompok. Ruang perjumpaan dinilai penting untuk merawat pemahaman bersama serta memperkuat kesadaran kolektif tentang nilai keberagaman.

BRIN, melalui fungsi riset sosial dan humaniora, menempatkan harmoni sosial sebagai salah satu perhatian utama. Keberagaman agama, budaya, dan identitas dipandang sebagai realitas sosial yang harus dikelola melalui pendekatan ilmiah, kebijakan publik, serta penguatan literasi masyarakat.

Relasi antarumat beragama di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Catatan ketegangan sosial, konflik identitas, serta polarisasi di beberapa daerah menunjukkan kebutuhan memperluas ruang dialog yang berkelanjutan. Upaya tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab negara, tetapi juga masyarakat sipil, organisasi keagamaan, serta lembaga pendidikan.

Dialog antarkelompok perlu terus diperluas agar agama berfungsi sebagai sumber etika publik dan kebaikan sosial. Pendekatan tersebut mendorong lahirnya kepercayaan sosial, mengurangi prasangka, serta memperkuat kohesi masyarakat.

Indonesia memiliki modal sosial kuat dalam membangun kehidupan lintas agama. Tradisi gotong royong, praktik musyawarah, serta nilai kebudayaan lokal menjadi fondasi penting bagi pembentukan relasi sosial yang inklusif. Nilai tersebut menjadi energi sosial yang menopang perjalanan kebangsaan.

Pengalaman pascareformasi menunjukkan dinamika identitas sempat memunculkan ketegangan di sejumlah wilayah. Meski demikian, ruang kebersamaan tetap bertahan melalui inisiatif masyarakat, forum lintas agama, serta kegiatan sosial yang mempertemukan berbagai kelompok.

Berdasarkan pengalaman riset yang dilakukan, masih ditemukan sikap primordial pada sebagian komunitas yang berpotensi memicu gesekan. Fenomena tersebut muncul dalam bentuk eksklusivisme identitas, stereotip antarkelompok, serta kecenderungan melihat perbedaan sebagai ancaman. Kondisi tersebut membutuhkan pendekatan edukatif dan dialog berkelanjutan.

Secara umum, masyarakat Indonesia menunjukkan kapasitas menjaga kohesi sosial di tengah perbedaan. Interaksi sehari-hari, praktik solidaritas lokal, serta kehidupan sosial yang saling bergantung menjadi faktor penting dalam meredam konflik terbuka.

Keragaman suku, bahasa, dan agama justru membentuk karakter kebangsaan yang inklusif. Perbedaan menghadirkan ruang pembelajaran sosial, memperkaya perspektif, serta mendorong tumbuhnya sikap saling menghormati dalam kehidupan publik.

Najib juga menyoroti praktik keislaman di Indonesia yang berkembang dalam konteks budaya. Nilai kebersamaan, kemanusiaan, serta penghormatan terhadap tradisi lokal membentuk wajah keberagamaan yang adaptif dan berorientasi pada harmoni sosial.

Pendekatan tersebut memperlihatkan peran agama sebagai kekuatan moral dalam kehidupan masyarakat. Agama tidak hanya hadir dalam ranah ritual, tetapi juga memberi kontribusi pada penyelesaian persoalan sosial, penguatan solidaritas, serta pembangunan etika publik.

Seminar dan bedah buku Beragama Maslahat menjadi ruang refleksi mengenai relasi agama dan kemaslahatan sosial. Diskusi mengangkat peran agama dalam memperkuat solidaritas, merawat keberagaman, serta membangun masyarakat yang adil dan inklusif.

Kegiatan ini juga menegaskan posisi organisasi masyarakat keagamaan sebagai mitra strategis dalam pembangunan sosial. Kolaborasi antara lembaga riset, organisasi masyarakat, dan komunitas keagamaan dipandang penting untuk memperluas dampak pengetahuan serta praktik baik di tengah masyarakat.

Rangkaian agenda Milad ke-16 ABI dirancang sebagai ruang konsolidasi gagasan dan gerakan sosial. Seminar, diskusi, serta bedah buku diarahkan untuk memperkuat kontribusi keagamaan dalam kehidupan kebangsaan, sekaligus mendorong partisipasi publik dalam merawat harmoni sosial.

Forum tersebut menempatkan agama sebagai sumber inspirasi bagi kehidupan bersama. Penguatan dialog, literasi keberagaman, serta kolaborasi lintas kelompok diharapkan memperkaya praktik kebangsaan dan memperkuat fondasi peradaban Indonesia.[HMP/ABI]