Akhlak
Ketua Umum ABI Ustadz Zahir Yahya: Ramadan sebagai Awal Tahun
Jakarta, 24 Februari 2026 — Ceramah ini disampaikan oleh Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (ABI), Ustadz Zahir Yahya dalam rapat reguler bersama para pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ABI pada Selasa (24/2/2026) yang dilaksanakan secara hybrid.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pertama-tama kita bersyukur kepada Allah SWT karena rapat ini berlangsung pada waktu yang sangat mulia, bahkan sakral: bulan suci Ramadan. Waktu yang oleh para ulama dipandang sebagai momentum awal bagi siapa pun yang ingin menempuh jalan kesempurnaan diri, jalan penghambaan, dan jalan kedekatan kepada Tuhan.
Ramadan sebagai Awal Tahun Spiritual
Berdasarkan sejumlah hadis yang diriwayatkan dari para Imam Ahlul Bait as. dan dinukil oleh para ulama, terdapat penegasan bahwa Ramadan merupakan awal tahun. Hadis semacam ini tentu harus disampaikan dengan kehati-hatian. Menisbatkan sesuatu yang tidak benar kepada para maksum adalah dosa kapan pun, dan dalam fikih dapat membatalkan puasa bila dilakukan dengan sengaja.
Dalam riwayat dari Imam Ja’far alaihis salam disebutkan:
“Ra’sus sanati syahru Ramadan. Idza salima syahru Ramadan salimatis sanah.”
Awal tahun adalah bulan Ramadan. Jika Ramadan berjalan dengan selamat, maka setahun pun akan selamat.
Makna “selamat” di sini bukan sekedar selamat secara fisik atau administratif, melainkan selamat secara spiritual: selamat dalam arah hidup, dalam pilihan, dan dalam komitmen. Jika fondasi tahun dibangun dengan benar, bangunan di atasnya cenderung mengikuti.
Di sisi lain, kita mengenal bahwa dalam kalender qamariah, bulan pertama adalah Muharram. Lalu bagaimana mungkin Ramadan disebut sebagai awal tahun?
Jawabannya terletak pada cara memahami istilah “awal tahun”. Tidak semua awal tahun identik dengan kalender. Dalam praktik kehidupan, manusia memiliki banyak “awal tahun” yang bersifat fungsional dan kontekstual.
Bagi pelajar dan mahasiswa, awal tahun adalah tahun ajaran akademik. Di situlah perencanaan, target, dan arah disusun. Bagi petani, awal tahun adalah musim tanam; kesalahan di awal akan berpengaruh pada hasil panen.
Dalam kewajiban finansial seperti zakat dan khumus, awal tahun dihitung sejak seseorang mulai memperoleh penghasilan.
Artinya, awal tahun adalah titik mula sebuah perjalanan yang menentukan arah.
Karena itu, ketika Ramadan disebut sebagai awal tahun, para ulama menjelaskan: Ramadan adalah awal tahun bagi para salik, para penempuh jalan kesempurnaan menuju Allah. Ramadan adalah titik start perjalanan ruhani. Salah merancang langkah di awal akan berdampak pada seluruh perjalanan berikutnya.
Seperti petani yang gagal menanam dengan benar, kegagalan itu akan terbawa sampai panen. Demikian pula seorang hamba: jika awal Ramadan dilalui tanpa kesadaran, tanpa perencanaan spiritual, tanpa niat perbaikan, maka sisa tahun pun cenderung berjalan tanpa arah.
Ramadan sebagai Madrasah Kehidupan
Ramadan adalah momentum restart, start ulang seluruh orientasi hidup. Ramadan menjadi waktu redefinisi diri: siapa kita, apa tujuan hidup kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita menuju. Ramadan menjadi ruang untuk merancang ulang prioritas.
Dalam tradisi pemikiran Islam, Ramadan menempati posisi yang sangat menentukan karena di bulan ini manusia seakan menjalani eksperimen hidup yang sarat keimanan dan irfan:
Nafas dihitung sebagai tasbih. Tidur dinilai sebagai ibadah. Aktivitas biologis diatur. Makan dan minum dibatasi. Ibadah personal ditingkatkan. Ibadah sosial diperluas. Seluruh ritme hidup direstrukturisasi.
Seolah-olah Tuhan mengambil alih detail kehidupan manusia untuk membimbingnya keluar dari rutinitas duniawi menuju kesadaran spiritual. Manusia dibiasakan hidup dalam orbit kehendak-Nya.
Al-Qur’an: Inti Kemuliaan Ramadan
Dalam konteks inilah Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan sebagai anugerah terbesar bagi orang beriman.
Menariknya, ketika Al-Qur’an mendefinisikan Ramadan, tidak menyebutnya sebagai bulan puasa, bulan ibadah, atau bulan sedekah. Al-Qur’an mendefinisikan Ramadan dengan Al-Qur’an, yaitu peristiwa turunnya Al-Qur’an:
“Syahru Ramadan alladzi unzila fihil Qur’an.”
Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an.
Ini menandai bahwa pusat kemuliaan Ramadan adalah Al-Qur’an. Ramadan dikenal karena Al-Qur’an. Kedudukannya adalah hadiah terbesar bagi manusia.
Karena itu, interaksi sekecil apa pun dengan Al-Qur’an dilipatgandakan nilainya. Dalam riwayat disebutkan bahwa membaca satu ayat di bulan Ramadan setara dengan mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan lain. Bahkan ayat yang paling pendek pun memiliki nilai luar biasa.
Mengapa? Karena Allah menghendaki kedekatan. Pintu dibuka selebar-lebarnya agar manusia berinteraksi dengan firman-Nya.
Firman Tuhan adalah refleksi sifat-sifat-Nya. Sebagaimana manusia dikenal melalui kata-katanya, Tuhan memperkenalkan diri-Nya melalui kalam-Nya.
Imam Ali a,s. menyatakan bahwa manusia tersembunyi di balik lisannya. Selama manusia diam, kita tidak mengetahui siapa dia. Begitu dia berbicara, tampaklah keberanian, kebijaksanaan, kebodohan, kemuliaan, atau kehinaan dirinya. Demikian pula Allah, dalam riwayat disebutkan bahwa Dia menampakkan diri melalui firman-firman-Nya. Sifat-sifat-Nya terbaca dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
Nama “Allah” dalam teologi Islam adalah nama yang menghimpun seluruh kesempurnaan. Ketika Allah “menjelma” melalui kalam-Nya, maka yang tampak adalah seluruh sifat kesempurnaan: kekuasaan, kelembutan, keindahan, keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan.
Karena itu, berinteraksi dengan Al-Qur’an berarti berinteraksi dengan sumber kekuatan, sumber keindahan, sumber kelembutan, dan sumber kebenaran. Bahkan interaksi paling sederhana, sekedar membaca saja, sudah menjadi pintu masuk kedekatan itu. Dari membaca, seseorang bisa meningkat menjadi memahami. Dari memahami, merenung. Dari merenung, sudah mengubah cara hidupnya
Menghadirkan Tuhan dalam Kehidupan
Lalu untuk apa semua karunia Ramadan ini? Untuk apa seluruh stimulus, kemudahan, dan pelipatgandaan pahala itu? Tujuannya agar manusia menghadirkan Tuhan dalam kehidupannya. Hadirnya Tuhan dalam hidup seseorang bukan sekedar keyakinan teologis, tetapi perubahan orientasi hidup.
Seseorang tidak lagi menjadikan ambisi pribadi, mimpi-mimpi duniawi, atau keinginan sesaat sebagai pusat geraknya. Dia menjadikan kehendak Tuhan sebagai parameter.
Apa yang diinginkan Allah, itulah yang menjadi arah. Apa yang dicintai Allah, itulah yang dikejar. Apa yang dibenci Allah, itulah yang ditinggalkan. Ketika Tuhan hadir, arah hidup menjadi jelas. Seseorang tidak lagi bergerak liar mengikuti hawa nafsu atau tekanan lingkungan. Seseorang bergerak dalam satu garis pengabdian. Aktivitas personal, keluarga, sosial, bahkan profesional, semuanya menjadi bagian dari perjalanan menuju Allah.
Itulah makna Ramadan sebagai awal tahun: awal orientasi hidup yang benar. Awal penataan ulang prioritas. Awal pembentukan kembali identitas spiritual manusia.
Ramadan bukan hanya ibadah rutin tahunan. Ramadan adalah fase pembentukan. Ramadan adalah madrasah. Ramadan adalah laboratorium kehidupan.
Jika seseorang keluar dari Ramadan tanpa perubahan orientasi, makaseseorang itu hanya menjalani lapar dan haus. Tetapi jika dia keluar dengan arah baru, maka Ramadan benar-benar menjadi awal tahun baginya.
Awal perjalanan menuju kedewasaan spiritual. Awal perjalanan menuju keikhlasan. Awal perjalanan menuju pengabdian yang lebih serius.
Karena itu, keberhasilan Ramadan bukan diukur dari banyaknya aktivitas, tetapi dari perubahan arah hidup.
Jika seseorang melewati Ramadan tanpa perubahan arah hidup, yang tersisa hanya lapar dan haus. Namun bila keluar darinya dengan orientasi yang lebih jernih dan komitmen yang lebih kokoh, Ramadan benar-benar menjadi awal tahun dalam arti yang sesungguhnya.
Semoga Allah memberi kemampuan untuk memanfaatkan setiap detik Ramadan secara optimal, memperbaiki niat, memperdalam interaksi dengan Al-Qur’an, serta menata kembali hubungan dengan-Nya.
Dengan demikian, kita keluar dari Ramadan dalam keadaan lebih siap menghadapi sisa tahun ke depan, dengan arah yang jelas, langkah yang mantap, dan kedekatan yang semakin dalam kepada Allah SWT. Terima kasih.
Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [HMP/ABI]
