Ikuti Kami Di Medsos

Tokoh

Pemimpin Baru Iran antara Spiritualitas dan Politik: Siapa Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei?

Published

on

Majelis Khobregan Iran Tetapkan Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei sebagai Wali Amr Wal Muslimin

Ahlulbait Indonesia | 9 Maret 2026 – Nama Sayyid Mojtaba Khamenei muncul sebagai figur sentral dalam kepemimpinan religius dan politik Republik Islam Iran. Ulama kelahiran Mashad tersebut dikenal di lingkungan hauzah sebagai pengajar fikih tingkat tinggi, dengan jaringan luas di kalangan ulama dan lembaga keilmuan Iran.

Penunjukannya sebagai pemimpin tertinggi ketiga Iran terjadi di tengah tekanan geopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya, setelah ayahnya, Ayatullah al-Uzma Sayyid Ali Khamenei, syahid dalam serangan udara AS-Israel pada akhir Februari 2026 . Dalam serangan yang sama, istri Mojtaba, Zahra Haddad Adel, serta ibu dan salah satu putranya juga turut gugur.

Latar Keluarga dan Pendidikan

Sayyid Mojtaba Khamenei merupakan putra kedua dari Pemimpin Tertinggi sebelumnya. Lahir pada 8 September 1969 di kota Mashad, salah satu pusat keagamaan utama di Iran, dan tumbuh dalam atmosfer revolusioner menjelang Revolusi Islam 1979.

Pendidikan agama dimulai sejak usia muda. Studi dasar berlangsung di Madrasah Ayatullah Mujtahidi Tehrani di Teheran. Pada masa Perang Iran–Irak (1980–1988), Sayyid Mojtaba Khamenei ikut bergabung dengan milisi Basij bersama para pejuang Islam di garis depan, khususnya dalam divisi Sayyid al-Shuhada.

Setelah perang berakhir, pada tahun 1368 H (1989), perjalanan ilmiah berlanjut ke kota Qom, pusat utama studi keagamaan Syiah di Iran. Studi berlangsung hingga awal dekade 1370-an sebelum kembali ke Teheran untuk melanjutkan pendidikan selama lima tahun.

Pada tahun 1376 H (1997), Sayyid Mojtaba Khamenei menikah dengan Zahra Haddad Adel, putri Gholam-Ali Haddad Adel, politisi konservatif terkemuka dan mantan ketua parlemen. Pada tahun yang sama, perjalanan akademik kembali berlanjut ke Qom untuk memperdalam studi agama.

Studi Tingkat Tinggi Hauzah

Pelajaran tingkat lanjut di bidang fikih dan ushul diperoleh dari sejumlah ulama besar Iran. Di antara guru yang tercatat dalam perjalanan ilmiahnya terdapat:

Ayatullah Mahmoud Hashemi Shahroudi, Ayatullah Reza Ostadi, Sheikh Jawad Tabrizi, Ayatullah Hossein Vahid Khorasani, Sayyid Musa Shabiri Zanjani, Agha Mojtaba Tehrani, Sheikh Mohammad Mo’men Qomi dan Ayatullah Mohammad-Taqi Mesbah Yazdi.

Pelajaran fikih juga diikuti langsung dari ayahnya, Ayatullah al-Uzma Ali Khamenei.

Aktivitas Akademik di Qom

Dalam dunia hauzah, Sayyid Mojtaba Khamenei dikenal sebagai pengajar bahth al-kharij atau pelajaran tingkat tertinggi dalam studi keagamaan. Kegiatan mengajar berlangsung lebih dari 17 tahun secara berkelanjutan.

Catatan ilmiah yang disusun dalam bahasa Arab serta diskusi akademik dalam bentuk kritik dan pertanyaan terhadap berbagai teori fikih mendapat perhatian sejumlah ulama senior. Pendekatan tersebut menghasilkan sejumlah gagasan baru dalam disiplin fikih, ushul fikih, dan ilmu rijal.

Baca juga : Majelis Khobregan Iran Tetapkan Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei sebagai Wali Amr Wal Muslimin

Metode Pengajaran dan Pengaruh Akademik

Metode pengajaran Sayyid Mojtaba Khamenei dikenal menekankan penguasaan terhadap pandangan ulama klasik sekaligus kritik metodologis terhadap dasar argumentasi ilmiah.

Pelajaran tingkat lanjut yang dipimpin di Qom berkembang pesat dan menarik ratusan pelajar hauzah. Sebelum pandemi COVID-19, lebih dari 400 pelajar tercatat mengikuti kelas bahth al-kharij yang dipimpinnya .

Selama masa pandemi, kegiatan pengajaran berlanjut secara virtual. Setelah pembatasan perjalanan antara Teheran dan Qom, metode tersebut tetap dipertahankan.

Pada awal tahun ajaran 1402 H (2023), lebih dari 1.300 pelajar tercatat mendaftar mengikuti pelajaran tersebut. Pada pertemuan pertama yang dihadiri lebih dari 700 peserta, Sayyid Mojtaba Khamenei secara mengejutkan mengumumkan penghentian kegiatan pengajaran dan menyampaikan permintaan maaf kepada para murid.

Keputusan tersebut memicu reaksi dari kalangan hauzah. Sekitar 1.000 pelajar dan guru di Qom menandatangani surat yang meminta pelajaran tersebut dilanjutkan. Dalam pertemuan dengan sejumlah murid lama, Sayyid Mojtaba Khamenei menjelaskan keputusan tersebut berkaitan dengan pertimbangan spiritual yang tidak dapat dijelaskan secara terbuka.

Aktivitas Ilmiah dan Sosial

Setelah penghentian kelas tersebut, fokus akademik diarahkan pada penelitian fikih dan penulisan catatan ilmiah, termasuk kajian terkait “Urwah al-Wuthqa”, salah satu kitab penting dalam fikih Syiah.

Di luar kegiatan akademik, Sayyid Mojtaba Khamenei juga mendukung berbagai lembaga fikih dan pusat kajian keagamaan di Qom. Sejumlah sekolah dan pusat studi didirikan untuk memperkuat pengembangan fikih serta pendidikan ulama generasi baru.

Program pendidikan di lembaga-lembaga tersebut juga mencakup dimensi sosial, termasuk kegiatan pelayanan bagi masyarakat kurang mampu. Dalam berbagai kesempatan, Sayyid Mojtaba Khamenei menekankan pentingnya tiga kriteria utama dalam pendidikan hauzah: keilmuan, komitmen revolusioner, dan kesehatan spiritual.

Pendekatan tersebut membentuk jaringan akademik yang berfokus pada penguatan tradisi keilmuan hauzah sekaligus respons terhadap tantangan sosial di masyarakat.

Jaringan dengan IRGC dan Poros Perlawanan

Sayyid Mojtaba memiliki hubungan strategis dan historis dengan komando tinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), terutama dengan unit elit Quds Force . Selama masa hidup Jenderal Qassim Soleimani, Sayyid Mojtaba sering hadir dalam pertemuan-pertemuan strategis yang membahas kebijakan Iran terhadap Irak, Suriah, Lebanon, dan Palestina .

Di tingkat regional, namanya juga sering dikaitkan dengan jaringan komunikasi bersama tokoh-tokoh Poros Perlawanan di Timur Tengah, termasuk dengan Syahid Sayyid Hasan Nasrallah.

Pada tahun 2019, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap Sayyid Mojtaba Khamenei, dengan menyatakan mewakili Pemimpin Tertinggi dalam “kapasitas resmi meskipun tidak pernah dipilih atau diangkat ke posisi pemerintah” selain bekerja di kantor ayahnya. Sanksi tersebut menuduhnya bekerja sama dengan komandan IRGC dan Basij untuk “memajukan ambisi regional ayahnya yang destabilisasi dan tujuan domestik yang menindas”.

Tantangan Kepemimpinan di Tengah Krisis

Penunjukan Sayyid Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi terjadi melalui mekanisme darurat di tengah tekanan militer Israel dan AS yang sedang berlangsung. Proses ini mendapat dorongan kuat dari IRGC untuk mencegah destabilisasi politik setelah syahidnya Imam Ali Khamenei.

Ancaman datang dari luar negeri, dengan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa “setiap pemimpin yang dipilih oleh rezim teror Iran untuk melanjutkan rencana penghancuran Israel” akan menjadi “target pasti untuk dibunuh” .

Di tengah tekanan geopolitik dan perubahan kawasan, sosok tersebut dipandang oleh sebagian kalangan sebagai figur yang memadukan pendekatan spiritual dengan pengalaman praktis dalam membaca tantangan negara.

Perpaduan pengalaman intelektual, jaringan ulama, Poros Perlawanan serta interaksi dengan berbagai institusi negara menjadikan nama Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei tetap berada dalam perhatian publik Iran dan kawasan Timur Tengah. []

Baca juga : Ayatullah Ali Reza Arafi Terpilih sebagai Anggota Ahli Hukum Dewan Penjaga dalam Dewan Kepemimpinan