Tokoh
Ibrahim Zolfaghari dan Wajah Baru Perang Narasi
Jakarta, 1 April 2026 — Dulu, juru bicara militer hadir untuk membacakan posisi resmi negara. Hari ini, peran itu tidak lagi cukup. Dalam perang modern, juru bicara bisa menjadi bagian dari operasi itu sendiri.
Konflik modern tidak hanya berlangsung di udara, di darat, atau di pusat komando. Konflik juga berjalan di ruang persepsi, di layar ponsel, dalam potongan video singkat, dan dalam kesan yang tertinggal setelah suara berhenti. Di titik itulah Letnan Kolonel Ibrahim Zolfaghari layak dibaca. Bukan hanya sebagai juru bicara militer Iran, tetapi juga sebagai contoh tentang bagaimana perang kini dijalankan melalui bahasa, citra, dan pengaruh psikologis.
Sebagai Juru Bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya, struktur komando operasi militer terpadu Iran, Zolfaghari datang dari institusi yang tampaknya memahami satu hal mendasar. Dalam konflik modern, persepsi sudah masuk ke pusat operasi. Karena itu, yang muncul ke ruang publik bukan hanya perwira yang menjelaskan keadaan, melainkan figur yang bekerja di wilayah yang lebih rumit, antara komunikasi, psikologi, dan kekuasaan.
Ketenangan dan Otoritas
Yang paling menonjol dari penampilannya justru bukan isi ancaman atau kerasnya retorika. Yang lebih mudah menempel adalah ketenangan. Zolfaghari berbicara dengan tempo yang dijaga, suara yang rendah, dan ekspresi yang hampir tak memberi ruang pada kegugupan.
Di ruang media yang semakin gaduh, ketenangan seperti ini bekerja jauh lebih efektif daripada yang sering dibayangkan. Publik cenderung membacanya sebagai kontrol. Dalam komunikasi perang, kesan menguasai keadaan sering lebih kuat daripada ancaman yang diucapkan dengan suara tinggi.
Banyak juru bicara militer terdengar seperti orang yang sedang membaca dokumen dengan seragam. Kalimatnya rapi, tetapi tidak hidup. Pada Zolfaghari, kesan itu tidak terlalu terasa. Ucapannya dibangun untuk menghasilkan efek tertentu. Bukan hanya memberi tahu, tetapi juga membentuk suasana, mengatur jarak emosional, dan memengaruhi cara audiens menempatkan diri terhadap konflik yang sedang dibicarakan.
Di titik itu, fungsi juru bicara mulai bergeser. Bukan lagi hanya penyampai informasi, melainkan pengelola persepsi.
Bahasa sebagai Penetrasi
Salah satu aspek paling menarik dari model ini terletak pada penggunaan bahasa. Zolfaghari tidak hanya berbicara dalam bahasa Persia, tetapi juga dalam bahasa Arab, Inggris, dan Ibrani. Dalam konteks perang, pilihan bahasa hampir tidak pernah netral. Bahasa bukan hanya alat agar pesan dipahami. Bahasa menjadi pintu masuk.
Ketika seorang perwira Iran berbicara dalam bahasa Ibrani kepada publik Israel, yang bekerja bukan hanya isi pesan. Yang bekerja adalah kedekatan yang tidak diharapkan. Dalam setiap konflik, selalu ada jarak psikologis yang dipelihara. Musuh harus terdengar jauh, asing, dan mudah disederhanakan. Bahasa yang tepat dapat merusak jarak itu.
Lawan yang semula dibayangkan berada di luar pagar mendadak terdengar terlalu dekat.
Efek seperti ini jarang meledak dalam bentuk dramatis. Yang lebih sering muncul justru gangguan yang halus, rasa tidak nyaman, dan kesadaran bahwa narasi yang selama ini tampak kokoh ternyata bisa disentuh dari arah lain. Pada medan persepsi, gangguan kecil seperti itu sering lebih efektif daripada retorika besar yang terlalu gamblang.
Di sini, penampilan Zolfaghari melampaui fungsi formal juru bicara. Yang berlangsung bukan hanya penyampaian posisi resmi, tetapi juga gangguan terhadap rasa aman psikologis lawan.
Dari Juru Bicara ke Figur Pengaruh
Hal lain yang membuat model ini relevan adalah kemampuannya mengelola beberapa audiens sekaligus. Dalam bahasa Arab, pesan masuk ke ruang emosi dan solidaritas kawasan. Lewat bahasa Inggris, pesan bergerak ke ruang internasional yang lebih dingin, lebih formal, dan lebih berhitung. Dalam bahasa Ibrani, yang disentuh adalah wilayah yang jauh lebih sensitif, yakni psikologi publik lawan.
Semua itu menuntut satu hal yang tidak mudah didapatkan, yakni konsistensi. Tanpa konsistensi, seseorang akan terdengar seperti sedang berganti topeng. Dengan konsistensi, semua bahasa itu terdengar sebagai cabang dari pusat yang sama. Di situlah kekuatannya. Pesannya tetap sama, yang berubah hanya jangkauannya.
Relevansi lain dari sosok seperti Zolfaghari muncul dalam hubungannya dengan ruang digital. Hari ini, juru bicara tidak lagi hidup hanya dalam konteks konferensi pers atau siaran resmi. Mereka hidup dalam potongan-potongan. Satu jeda, satu tatapan, satu kalimat pendek, atau ekspresi wajah saat menyampaikan informasi sensitif bisa berumur lebih panjang daripada seluruh isi konferensi itu sendiri.
Potongan-potongan itu lalu beredar, dipotong ulang, diberi teks baru, dan hidup di luar panggung asalnya.
Di era ekonomi perhatian seperti sekarang, figur publik tidak cukup hanya hadir. Figur seperti ini harus meninggalkan jejak yang mudah dikenali. Dan Zolfaghari tampaknya memenuhi syarat itu. Wajah yang tenang, ritme yang stabil, dan pembawaan yang hampir tidak berubah membuat penampilannya mudah dikenali, bahkan ketika dipisahkan dari konteks asalnya.
Pada tahap tertentu, yang ditunggu publik bukan lagi hanya isi pernyataannya, melainkan juga kemunculannya itu sendiri.
Tentu, tidak ada juru bicara militer yang bekerja di ruang bebas. Setiap kalimat tetap bergerak di dalam batas institusi. Ada yang dibuka, ada yang ditahan, ada pula yang sengaja dibiarkan menggantung. Namun justru di situlah keterampilan seperti ini diuji. Bukan pada kemampuan berbicara sebanyak mungkin, melainkan pada kemampuan membuat keterbatasan terdengar sebagai kontrol, bukan kekurangan.
Pada akhirnya, sosok seperti Ibrahim Zolfaghari menunjukkan satu hal yang kini sulit dibantah. Dalam perang modern, kata-kata tidak lagi berdiri di pinggir operasi. Kata-kata sudah masuk ke dalamnya. Dan ketika itu terjadi, juru bicara tidak lagi hadir sebagai pelengkap, melainkan sebagai salah satu wajah perang itu sendiri. []
