Pendidikan
Syahid Imam Khamenei: “Islam Agama Tablig”

Oleh: Ustadz Muhammad Elyas
(Pengajar Hauzah Ilmiah Shiddiqah Zahra Condet, Jakarta Timur)
Ahlulbait Indonesia, 16 Mei 2026 — Hauzah ilmiah melahirkan ulama-ulama besar yang aktif berdakwah, menyampaikan Islam, serta menyebarkan ilmu-ilmu keagamaan di tengah masyarakat. “Islam adalah agama tablig,” ucap Syahid Ali Khamenei. Adapun jihad diserukan apabila terdapat tiran dan penghalang tablig yang harus dilawan. Sejak 14 abad lalu, tablig tidak pernah tersingkir dari kehidupan kaum muslimin.
Baca juga: Rahbar: Kita Punya Banyak Persamaan
Urgensi Tablig dalam Sejarah Penyebaran Islam
Sejarah menunjukkan bahwa jalan utama tablig justru lebih banyak mengislamkan berbagai bangsa di banyak negeri. Mereka masuk Islam melalui nasihat dan dakwah. Syahid Imam Khamenei mengambil contoh di India, ketika banyak orang memeluk Islam melalui amaliah dan dakwah para urafa Iran yang dahulu melakukan tablig di sana. Demikian pula penduduk di Cina, Malaysia, Indonesia, Filipina, dan negeri-negeri lainnya yang menerima Islam melalui dakwah.
Sebaliknya, apabila penyebaran Islam dilakukan dengan pedang dan ancaman seperti yang dimainkan Sultan Ghaznawi, pengaruhnya justru membangkitkan api anti-Islam. Pedang-pedang Mongol di India, Akbar Shah, Jahangir, Aurangzeb, dan para penguasa lain yang dibanggakan itu pada akhirnya melahirkan musuh-musuh bagi kaum muslimin. “Pedang” tidak menjadikan seseorang masuk Islam dari lubuk hatinya.
Baca juga: Ketergantungan Manusia kepada Wahyu dan Kenabian
Transformasi Dakwah di Era Media Global
Sirah tablig yang dilakukan ulama-ulama terdahulu, seperti Syaikh Ja’far Shustari, Sayyid Ridha Hamadani, Mirza Muhammad Hamadani, dan para ulama ahli amal lainnya, menjadikan ceramah di atas mimbar sebagai metode dakwah yang patut diteladani.
Syahid Imam Khamenei melihat adanya perubahan kondisi ruang dan waktu pada masa kini. Dahulu, jangkauan tablig hanya terbatas pada pertemuan puluhan atau ratusan orang di masjid, ketika seorang alim sebagai imam salat atau khatib menyampaikan ceramah. Kini, lahan tablig terbuka luas dan suara mubalig dapat menjangkau pelosok dunia. Karena itu, kegiatan tablig harus bergerak lebih luas lagi sesuai kebutuhan umat di berbagai daerah.
Beliau juga melihat, di satu sisi begitu banyak pemuda yang ingin memahami agama, sementara sebagian pelajar telah mengalami keterpisahan antara pemahaman agama dan pengamalannya. Di sisi lain, serangan media terhadap prinsip-prinsip dan pemikiran kesyiahan berlangsung secara masif dengan berbagai cara. Hal itu menggambarkan pentingnya dakwah dan besarnya kebutuhan terhadap para mubalig.
Menurut beliau, nilai sesuatu tidak selalu mutlak di setiap tempat. Air, misalnya, menjadi sangat bernilai di padang pasir, tetapi memiliki nilai berbeda di tepi sungai. Tablig pun demikian. Nilainya diukur dari hubungan antara kebutuhan suatu daerah dan jumlah mubalig yang ada. Kebutuhan terhadap tablig meningkat tajam ketika mubalig langka, dan menurun ketika jumlah mubalig terlalu banyak.
Namun, di era globalisasi media yang menembus batas teritorial, kekuatan anti-Islam dengan jaringan global dan metode-metode modern justru semakin meningkatkan kebutuhan terhadap tablig.
Baca juga: Khotbah Imam Ali tentang Pengutusan Rasulullah Saw, Alquran dan Sunah
Menarik Pelajaran dari Arahan Syahid Imam Khamenei
Beberapa poin dari arahan Syahid Imam Khamenei dalam buku “Raudhat Al-Muballighin 1” berikut ini layak direnungi dan dikaji lebih jauh.
Pertama, Islam merupakan agama yang mewajibkan tablig bagi setiap pemeluknya. Banyak nash menegaskan hal tersebut, di antaranya sabda Nabi saw: “Fal yuballigh asy-syahid minkum al-gha`ib”; hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Bisa jadi orang yang tidak hadir lebih memahami daripada yang hadir.
Tugas menyampaikan Islam yang suci tentu lebih berada di pundak orang-orang yang mendalami agama (tafaqquh fid din; QS. At-Taubah: 122). Dengan demikian, tablig menjadi tanggung jawab para hauzawi. Mereka yang menimba ilmu di hauzah ilmiah kemudian terjun ke masyarakat sebagai mubalig.
Kedua, tablig memerlukan metode yang benar dan patut dipelajari. “Fas`alû ahladz dzikr,” termasuk belajar dari para mubalig yang memiliki pengalaman dan jam terbang tinggi. Mereka perlu berbagi teori maupun konsep berdasarkan pengalaman dakwah mereka.
Sangat jelas bahwa jalan radikal yang ditempuh para pengujar kebencian, baik kelompok Syiah London maupun kelompok Sunni yang memecah belah umat, justru menguntungkan musuh-musuh Islam dan kaum muslimin, disadari ataupun tidak.
Baca juga: Al-Mahdy: Masjid Muslim Segala Golongan
Pesan Alquran dan Sunnah tidak hanya menekankan sisi Ilahiah dalam tablig, tetapi juga sisi insaniah atau kemanusiaan, sebagaimana firman Allah: “Fa bima rahmatin minallahi linta lahum wa lau kunta fazhzhan ghalizhal qalbi lanfadhdhu min haulika” (QS. Ali Imran: 159).
Terkait hal itu, Syahid Imam Khamenei menjelaskan bahwa tablig menyasar akal dan hati manusia. Berdakwah berarti menghidupkan akal pendengar agar berpikir tentang ajaran agama yang disampaikan, sekaligus menyentuh hatinya. Bukan menggunakan propaganda manipulatif sebagaimana lazim diterapkan Barat.
Pentingnya Strategi dan Manajemen Dakwah Islam
Dari poin-poin di atas, tampak pentingnya sebuah wadah manajemen tablig yang memuat perencanaan, pengkajian khusus, dan perumusan strategi dakwah. Setidaknya, itulah kisi-kisi yang ditekankan Syahid Imam Khamenei guna mencapai hasil maksimal dalam menyampaikan Islam yang ashil. []
Baca juga: Didik Anak Dengan Suri Tauladan







