Ikuti Kami Di Medsos

Persatuan

Pemimpin Iran: Masa Depan Teluk Persia Tanpa Kehadiran AS

Published

on

Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Mojtaba Khamenei. (Foto: Tehran Times)

Ahlulbait Indonesia | Kamis, 30 April 2026 — Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei menyatakan masa depan kawasan Teluk Persia akan bebas dari kehadiran Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan dalam pesan resmi memperingati Hari Nasional Teluk Persia, yang dirilis Kamis pagi waktu setempat (30/4/4/26).

Dalam pernyataannya, Ayatullah Mojtaba menegaskan kawasan tersebut tengah memasuki babak baru, menyusul rangkaian perkembangan militer dan politik dalam 60 hari terakhir. Ayatullah Mojtaba menyebut capaian itu sebagai bagian dari “kebijakan perlawanan” yang, menurutnya, akan membentuk tatanan regional dan global baru.

Sayyid Mojtaba menggambarkan Teluk Persia bukan hanya wilayah perairan, melainkan bagian dari identitas historis dan jalur vital ekonomi dunia melalui Selat Hormuz hingga Laut Oman. Pemimpin Revolusi itu menegaskan bahwa kekuatan Barat, terutama Amerika Serikat, sebagai faktor utama ketidakstabilan kawasan selama berabad-abad.

Menurutnya, sejarah intervensi asing di wilayah tersebut mencakup pendudukan oleh Portugis, Belanda, hingga Inggris, yang kemudian berlanjut dalam bentuk kehadiran militer Amerika. Ayatullah Mojtaba menilai Revolusi Islam Iran menjadi titik balik dalam mengurangi pengaruh eksternal di kawasan itu.

Selain itu juga menyinggung perkembangan terbaru terkait kekalahan Amerika Serikat dalam konfrontasi militer di kawasan dan menilai kejadian tersebut memperlihatkan keterbatasan kemampuan pangkalan militer AS, bahkan untuk melindungi dirinya sendiri.

“Ke depan, Teluk Persia akan menjadi kawasan tanpa kehadiran Amerika dan berorientasi pada kesejahteraan rakyatnya,” katanya. Ayatullah Mojtaba menambahkan bahwa negara-negara di sekitar Teluk Persia dan Laut Oman memiliki “nasib yang sama” dan tidak memerlukan intervensi pihak luar.

Lebih lanjut, ditekankannya pentingnya kemandirian nasional Iran, termasuk penguatan kapasitas di bidang teknologi seperti nano, biologi, nuklir, dan sistem persenjataan. Semua itu disebut sebagai aset strategis yang harus dijaga.

Ayatullah Mojtaba juga menegaskan komitmen Iran dalam mengelola Selat Hormuz secara mandiri dan menyatakan kebijakan baru terkait jalur pelayaran tersebut akan meningkatkan keamanan kawasan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi negara-negara sekitarnya.

Pernyataan ini muncul di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang di kawasan Teluk, yang selama ini menjadi titik strategis bagi perdagangan energi global dan kepentingan militer berbagai negara besar.

Berikut ini adalah teks pernyataan yang dikeluarkan oleh Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sesungguhnya di antara nikmat istimewa yang dianugerahkan Allah kepada bangsa-bangsa Muslim di kawasan kita, khususnya rakyat Iran yang terhormat, adalah nikmat Teluk Persia. Nikmat ini melampaui hanya wilayah perairan, karena telah menjadi bagian dari identitas dan peradaban kita. Selain sebagai penghubung antarbangsa, kawasan ini merupakan jalur vital dan luar biasa bagi perekonomian global melalui Selat Hormuz hingga Laut Oman. Kekayaan strategis ini telah memancing keserakahan banyak kekuatan destruktif sepanjang sejarah. Riwayat agresi berulang oleh kekuatan Eropa dan Amerika, beserta dampaknya berupa ketidakstabilan, kerusakan, dan berbagai ancaman terhadap negara-negara kawasan, hanyalah sebagian dari rencana jahat kekuatan hegemonik arogan global terhadap bangsa-bangsa Teluk Persia. Yang terbaru adalah praktik arogansi Amerika Serikat belakangan ini.

Rakyat Iran, yang memiliki garis pantai terpanjang di Teluk Persia, telah memberikan pengorbanan terbesar demi kemerdekaan dan menghadapi pihak asing serta para agresor. Mulai dari pengusiran Portugis dan pembebasan Selat Hormuz yang kemudian menetapkan 30 April sebagai Hari Nasional Teluk Persia, hingga perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dan perjuangan heroik melawan kolonialisme Inggris. Revolusi Islam menjadi titik balik besar dalam perlawanan ini, dengan berkurangnya pengaruh kekuatan arogan di kawasan. Kini, setelah dua bulan dari aksi militer terbesar dan agresi oleh kekuatan-kekuatan sombong di kawasan serta kekalahan memalukan Amerika, fase baru bagi Teluk Persia dan Selat Hormuz mulai terbentuk.

Bangsa-bangsa di kawasan yang selama bertahun-tahun terbiasa menyaksikan sikap diam dan tunduk para penguasa terhadap agresor, dalam enam puluh hari terakhir telah melihat keteguhan, kewaspadaan, dan perjuangan dari para pahlawan angkatan laut tentara dan Garda Revolusi, serta keberanian rakyat dan pemuda di Iran selatan dalam menolak dominasi asing.

Hari ini, dengan pertolongan Allah dan berkah darah para syuhada dari perang ketiga yang dipaksakan, khususnya Pemimpin Revolusi Islam yang telah syahid, menjadi jelas tidak hanya bagi opini publik global dan bangsa-bangsa kawasan, tetapi juga bagi para penguasa, bahwa kehadiran Amerika di Teluk Persia merupakan faktor utama ketidakstabilan, dan pangkalan-pangkalan militernya bahkan tidak mampu menjamin keamanannya sendiri, apalagi menjamin keamanan pihak lain.

Dengan pertolongan Allah, masa depan Teluk Persia akan menjadi masa depan tanpa kehadiran Amerika, serta melayani kemajuan, kesejahteraan, dan kenyamanan masyarakatnya. Kita bersama para tetangga di Teluk Persia dan Laut Oman memiliki satu nasib. Mereka yang datang dari ribuan kilometer dan menebar kekacauan serta kejahatan tidak memiliki tempat di sini, selain di kedalaman perairannya. Rangkaian kemenangan yang diraih berkat kebijakan perlawanan ini akan menjadi awal terbentuknya tatanan regional dan internasional yang baru.

Kebangkitan ajaib rakyat Iran tidak lagi terbatas pada puluhan juta pejuang melawan Zionisme dan Amerika, tetapi seluruh rakyat Iran di dalam dan luar negeri memandang seluruh kapasitas jati diri nasional, ilmiah, industri, dan teknologi mereka, mulai dari nano dan biologi hingga nuklir dan rudal, sebagai kekayaan nasional yang harus dilindungi.

Republik Islam Iran, melalui pengelolaan Selat Hormuz sebagai wujud syukur atas nikmat ini, akan menjadikan kawasan Teluk Persia lebih aman dan mencegah musuh memanfaatkan jalur perairan tersebut. Aturan baru dalam pengelolaan Selat Hormuz akan membawa kesejahteraan dan kemajuan bagi seluruh bangsa di kawasan, serta menghasilkan keuntungan ekonomi yang membahagiakan masyarakat, dengan izin Allah, meskipun tidak disukai oleh pihak-pihak yang ingkar.

Sayyid Mujtaba Huseini Khamenei

10 Ordibehesht 1405/30 April 2026