Kegiatan ABI
Alwi Shihab Tersentuh Lirik Hymne ABI: “Ahlul Bait Nabi Teladan Bagi Kami”
Jakarta, 6 Februari 2026 — “Saya tersentuh dengan Hymne ABI, yang disebutkan ‘Ahlu Bait Nabi Tauladan Bagi Kami’,” kata Prof. Dr. Alwi Shihab, M.A. Ia menilai pesan tersebut penting ditegaskan kembali kepada umat Islam sebagai rujukan keteladanan. Pernyataan itu disampaikan dalam seminar dan bedah buku Beragama Maslahat yang digelar Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam rangka Milad ke-16 ABI, Kamis (5/2), di Gedung Widya Graha BRIN, Jakarta Selatan.
Alwi menempatkan Ahlul Bait sebagai figur sentral dalam praktik keberagamaan. Keluarga Nabi dipandang tidak terpisahkan dari Alquran serta perjalanan sejarah Islam.
“Teladan utama adalah keluarga Nabi, perjuangannya, kesetiannya kepada Islam, dan kedekatannya dengan Alquran,” ujarnya.
Mantan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat itu mengingatkan umat Islam pada dua rujukan utama yang diwariskan Rasulullah.
“Siapa yang berpegang teguh tidak akan tersesat, yaitu Alquran dan Ahlul Bait Nabi. Rujukan ini terdapat dalam riwayat Sunni maupun Syiah,” kata Alwi.
Relasi antara Ahlul Bait dan Alquran, menurutnya, menjadi fondasi gerakan sosial-keagamaan yang relevan di tengah masyarakat. Nilai itu ia lihat tercermin dalam kiprah ABI yang berupaya menempatkan ajaran Islam sebagai panduan etika sosial dan kebangsaan.
Alwi juga mengapresiasi perjalanan ABI yang memasuki usia 16 tahun. Organisasi tersebut dinilai telah menunjukkan kontribusi sosial dan keagamaan sekaligus memperkuat ruang dialog keislaman.
“Usia 16 tahun menunjukkan proses panjang. Banyak kerja sosial dan keagamaan yang telah dilakukan. Masih ada ruang pembenahan, tetapi arah geraknya jelas,” ucapnya.
Ia menekankan keterbukaan terhadap perbedaan sebagai prasyarat kemajuan organisasi dan masyarakat. Penerimaan atas keragaman dinilai memperkuat kohesi sosial sekaligus memperluas ruang kerja sama.
“ABI akan berkembang apabila mampu menerima perbedaan dengan hati yang lapang. Keterbukaan menjadi kunci,” katanya.
Alwi mengutip prinsip lita’arafu dalam Alquran sebagai fondasi interaksi sosial. Saling mengenal dipandang sebagai jembatan membangun relasi lintas kelompok, baik di internal umat Islam maupun dengan komunitas non-Muslim.
“Interaksi tidak berhenti pada sesama Muslim. Kita perlu menjalin hubungan dengan siapa pun demi menghadirkan kehidupan yang sejahtera dan makmur,” tuturnya.
Perhatian khusus ia arahkan kepada generasi muda. Menurut Alwi, pemuda perlu memiliki tiga kompetensi agar mampu berinteraksi secara positif dan terhormat di ruang publik: pribadi, komparatif, dan kolaboratif.
Kompetensi pribadi menuntut penguasaan ilmu agama dan wawasan keislaman agar mampu menjelaskan keyakinan secara argumentatif. Kompetensi komparatif mengharuskan kesiapan memahami pihak lain serta mencari titik temu tanpa prasangka. Sementara kompetensi kolaboratif menjadi tahap lanjutan untuk membangun kerja sama nyata setelah kesamaan nilai ditemukan.
“Titik temu harus diutamakan. Dari situ kolaborasi bisa berjalan dan melahirkan kerja nyata yang bermanfaat,” ujarnya.
Alwi menilai tiga kompetensi tersebut menjadi modal penting bagi ABI dalam memperluas interaksi dengan komunitas Islam di Indonesia. Pendekatan berbasis pengetahuan, dialog, dan kolaborasi diyakini memperkuat penerimaan publik serta mempertegas posisi organisasi dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan.
Seminar dan bedah buku Beragama Maslahat merupakan bagian dari rangkaian Milad ke-16 ABI yang menyoroti agenda keagamaan, kemanusiaan, dan kebangsaan. Kegiatan ini mempertemukan akademisi, tokoh agama, dan masyarakat dalam ruang dialog yang menekankan nilai maslahat, kebersamaan, serta kontribusi sosial umat dalam kehidupan berbangsa. [HMP/ABI]
