Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Ayatullah Ali Khamenei: Jika AS Memulai Perang, Konflik akan Meluas Jadi Perang Regional

Published

on

Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Ali Khamenei pada 1 Februari 2026 di Teheran (Foto: Fars News Agency)

Ahlulbait Indonesia, 1 Februari 2026 — Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Ali Khamenei, memperingatkan Amerika Serikat untuk tidak memulai perang terhadap Iran. Ayatullah Khamenei menyatakan, jika perang dimulai, konflik tidak akan terbatas pada satu negara dan berpotensi berubah menjadi perang regional.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan ribuan orang dari berbagai lapisan masyarakat pada hari pertama dekade Fajr Suci. Laporan kantor berita IRNA pada Minggu (1/2/2026) menyebut Ayatullah Khamenei menilai ancaman-ancaman terbaru dari pejabat AS mengulang pola lama, termasuk ungkapan “semua opsi ada di meja”.

“Amerika harus tahu, jika mereka memulai perang kali ini, itu akan menjadi perang regional,” kata Ayatullah Khamenei, sebagaimana dikutip IRNA.

Konfrontasi Iran-AS dan Kritik terhadap “Dominasi”

Dalam pidato itu, Ayatullah Khamenei menilai konflik panjang Iran-Amerika Serikat selama sekitar 47 tahun bersumber dari upaya Washington untuk “menelan” Iran, sedangkan Iran menolak untuk tunduk. Ayatullah Khamenei menyebut penolakan terhadap dominasi asing membuat permusuhan terus berlanjut.

Ayatullah Khamenei juga menyebut berbagai potensi Iran, seperti minyak, gas, tambang, serta posisi geografis strategis, sebagai alasan munculnya “keserakahan” negara-negara besar. Dalam narasinya, Ayatullah Khamenei menyebut isu lain yang sering dibawa AS, seperti hak asasi manusia, yang menurutnya hanya dalih politik.

Menurut Ayatullah Khamenei, Iran tidak akan menjadi pihak yang memulai perang, namun akan memberikan respons keras jika diserang.

“Kami bukan pihak yang memulai dan tidak ingin menyerang negara mana pun. Namun bangsa Iran akan memberikan pukulan keras terhadap siapa pun yang ingin menyerang dan mengganggu,” tegas Ayatullah Khamenei.

Peristiwa 12 Bahman dan Sejarah Revolusi

Ayatullah Khamenei menyebut 12 Bahman dalam kalender Persia sebagai tanggal penting dalam sejarah Revolusi Islam. Tanggal tersebut diperingati sebagai momentum bersejarah terkait proses perubahan sistem pemerintahan Iran dari era monarki ke Republik Islam.

Ayatullah Khamenei membandingkan pemerintahan Pahlavi yang disebutnya “individualis, otoriter, anti-agama, dan bergantung” dengan sistem baru yang “berbasis rakyat, berdasarkan agama, dan menentang penindasan”.

Dalam bagian lain, Ayatullah Khamenei menyinggung kedatangan Imam Khomeini ke Teheran yang disebutnya disambut massa besar. Ayatullah Khamenei menyatakan dukungan publik kala itu menjadi faktor penting dalam perubahan politik yang menghapus monarki.

Kemajuan Negara dan “Kepercayaan Diri”

Ayatullah Khamenei menekankan konsep “kepercayaan diri bangsa” sebagai kekuatan utama revolusi. Dalam pernyataanya, perubahan politik tersebut membangkitkan keyakinan nasional dari “tidak bisa” menjadi “bisa”.

Ayatullah Khamenei juga mengangkat kemajuan Iran dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam pernyataannya, Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa Iran mencapai tahapan kemampuan yang membuat negara-negara besar memperhitungkan kekuatan Iran.

Pada bagian lain, Ayatullah Khamenei menolak narasi yang menyebut generasi muda Iran tidak punya masa depan. Ditegaskannya, Ayatullah Khamenei menyatakan anak muda Iran tetap memiliki tekad dan akan membangun masa depan negara.

Hasutan dan Operasi yang Dikomandoi Asing

Ayatullah Khamenei turut menyinggung kerusuhan yang disebut terjadi pada 18 dan 19 Diy bulan Persia (8-9 Januari 2026). Dalam pernyataannya, Ayatullah Khamenei menyebut kerusuhan tersebut memiliki corak Amerika dan Zionis, serta dijalankan oleh kelompok yang terdiri dari “pemimpin” dan “prajurit”.

Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa sebagian pemimpin kerusuhan tersebut telah ditangkap dan mengaku menerima pendanaan serta pelatihan, termasuk untuk menyerang pusat-pusat keamanan dan melakukan mobilisasi massa.

Ayatullah Khamenei juga menyebut keterlibatan lembaga intelijen asing, dan menerima informasi mengenai pengerahan sumber daya CIA dan Mossad dalam situasi tersebut.

Selain itu, Ayatullah Khamenei menilai pola kerusuhan itu mirip upaya kudeta. Dalam penegasannya, sasaran serangan meliputi kantor polisi, sejumlah pusat IRGC, pusat pemerintahan, bank, serta simbol-simbol keagamaan seperti masjid dan Al-Quran.

Peran Aparat dan Mobilisasi Publik

Ayatullah Khamenei menyebut lembaga keamanan, termasuk kepolisian, Basij, IRGC, dan instansi lain telah menjalankan tugas dengan baik. Namun, Ayatullah Khamenei menilai faktor kunci pemadaman kerusuhan adalah kehadiran massa pendukung di lapangan.

Menurut Ayatullah Khamenei, aksi publik seperti peristiwa 2009 menjadi preseden bahwa mobilisasi masyarakat dapat mengakhiri situasi krisis.

Ayatullah Khamenei juga menyebut musuh mencoba mengadu domba rakyat dengan sistem, tetapi kehadiran jutaan orang dalam aksi-aksi tertentu menjadi respons yang, menurutnya, menggagalkan tujuan tersebut.

Mengaitkan Kekerasan dengan Teroris ISIS

Dalam bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei menyebut kekerasan dalam kerusuhan itu mirip dengan tindakan ISIS, dan narasi tersebut selaras dengan pengakuan Presiden AS pada periode jabatan pertamanya terkait pembentukan ISIS.

Ayatullah Khamenei menyebut tindakan brutal, termasuk pembakaran dan kekerasan ekstrem, sebagai bagian dari metode kelompok yang disebutnya terpengaruh pola teroris ISIS.

Perang Regional Bila AS Memulai Perang

Menutup pidatonya, Ayatullah Khamenei kembali menegaskan Iran tidak akan memulai agresi, namun akan membalas keras pihak yang menyerang. Ayatullah Khamenei mengulang peringatan bahwa langkah militer AS akan berujung pada konflik lebih luas.

“Amerika juga harus tahu, jika mereka memulai perang kali ini, itu akan menjadi perang regional,” tegas Ayatullah Khamenei.

Pernyataan-pernyataan tegas Ayatullah Khamenei muncul di tengah ketegangan politik dan keamanan kawasan, serta meningkatnya retorika politik AS terkait konflik dan pengaruh regional. Hingga berita ini disusun, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun pihak-pihak yang disebut dalam pidato tersebut. [HMP/IRNA]