Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Faktor Trump dalam Ancaman Perang Iran–AS

Published

on

Selat Hormuz (Peta tangkapan google Maps)

Oleh: Syed Abdullah
Dosen Hubungan Internasional Universitas Brawijaya

Ahlulbait Indonesia, 29 Januari 2026 — Hari-hari ini eskalasi politik dunia semakin memanas ditandai oleh meningkatnya suhu ketegangan antara Washington dan Teheran. Saling gertak melalui pernyataan resmi, pergerakan militer terbatas, serta bocoran mengenai perundingan tidak langsung yang berlangsung tertutup justru menambah ketidakpastian. Dalam situasi seperti ini, miskalkulasi kecil atau salah tafsir atas sinyal politik dapat dengan cepat memicu eskalasi yang tidak direncanakan. Meski demikian, di balik retorika keras dan manuver diplomatik yang tampak buntu, kemungkinan pecahnya perang terbuka antara Iran dan Amerika Serikat tetap lebih banyak dibatasi oleh realitas strategis daripada didorong oleh hasrat konfrontasi. Ada sejumlah faktor utama yang mendasari penilaian ini.

Pertama, terdapat keseimbangan daya gentar (deterrence) yang relatif stabil. Iran hari ini bukan Irak tahun 2003. Teheran telah membangun kemampuan rudal balistik jarak menengah, drone tempur, serta jaringan proksi regional yang mampu membalas serangan secara asimetris. Infrastruktur militer dan energi di kawasan Teluk, pangkalan-pangkalan AS, hingga jalur pelayaran strategis berada dalam jangkauan respons Iran. Washington memahami bahwa serangan terhadap Iran tidak akan menjadi operasi cepat dan bersih, melainkan awal dari konflik berkepanjangan dengan biaya politik, ekonomi, dan militer yang sangat besar.

Kedua, dampak ekonomi global akan sangat luas. Selat Hormuz tetap menjadi jalur vital perdagangan energi dunia. Gangguan serius saja sudah cukup untuk mendorong lonjakan harga minyak dan gas, memicu inflasi global, serta mengguncang pasar keuangan. Negara-negara besar—baik di Asia, Eropa, maupun kawasan Teluk—tidak memiliki insentif melihat Timur Tengah berubah menjadi medan perang terbuka. Dalam kondisi ekonomi dunia yang rapuh, perang Iran–AS berpotensi menjadi pemicu krisis global baru.

Ketiga, politik regional Arab justru cenderung menahan eskalasi. Banyak negara Teluk memang memandang Iran sebagai rival strategis, tetapi mereka juga paling rentan terhadap pembalasan langsung. Kota-kota modern, fasilitas energi, dan pusat keuangan mereka berada dalam jarak jangkau rudal dan drone Iran. Karena itu, alih-alih mendorong perang, para pemimpin Arab lebih mungkin melobi Washington—termasuk figur seperti Donald Trump bila kembali berkuasa—untuk menahan diri. Stabilitas, bahkan yang dingin dan penuh kecurigaan, tetap lebih menguntungkan dibanding perang terbuka yang tak terkendali.

Israel pun menghadapi dilema serupa. Walau menganggap Iran sebagai ancaman besar, para perencana strategis Israel menyadari bahwa perang langsung dapat memicu hujan rudal dari berbagai front: Iran, Lebanon selatan, Yaman atau Irak. Sistem pertahanan udara Israel memang canggih, tetapi tidak dirancang untuk menghadapi serangan masif berkepanjangan tanpa dampak serius terhadap ekonomi dan kehidupan sipil. JIka merujuk pada perang 12 hari Bulan Juni 2025 lalu efektifitas serangan presisi rudal Iran tentu membawa pengalaman pahit bagi rezim Zionis . Karena itu, strategi Israel sejauh ini lebih menekankan operasi bayangan, sabotase, dan pencegahan terbatas—bukan perang total.

Di sisi Iran, faktor domestik juga penting. Tekanan ekonomi memang berat, tetapi ancaman eksternal justru kerap memperkuat solidaritas internal. Pemerintah Iran telah lama membingkai kebijakan pertahanannya sebagai upaya melindungi kedaulatan nasional dari intervensi asing. Kemampuan rudal dan drone menjadi simbol kebanggaan teknologi sekaligus alat penangkal. Serangan asing berpotensi mengonsolidasikan dukungan rakyat dalam jangka pendek alih-alih melemahkannya.

Namun demikian, satu variabel yang selalu sulit diprediksi dalam politik internasional adalah faktor individu pemimpin. Di sinilah kekhawatiran muncul ketika kebijakan luar negeri dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan yang impulsif, transaksional, dan sangat personal. Sosok seperti Trump dikenal kerap memandang politik sebagai panggung negosiasi berisiko tinggi, dengan kecenderungan mengambil langkah dramatis untuk menunjukkan ketegasan atau mengalihkan perhatian dari tekanan domestik.

Dalam perspektif psikologi politik, pemimpin dengan kebutuhan kuat akan citra sebagai “pemenang”, sensitivitas tinggi terhadap penghinaan, serta ketidakpercayaan pada birokrasi keamanan nasional berpotensi mengabaikan nasihat kehati-hatian. Lingkaran penasihat yang sempit dan homogen dapat menciptakan ruang gema, membuat opsi militer tampak lebih mudah dan terkendali daripada kenyataannya. Selain itu, teori diversionary war menunjukkan bahwa pemimpin yang menghadapi tekanan politik di dalam negeri kadang tergoda menggunakan krisis eksternal untuk membangun dukungan.

Meski begitu, bahkan faktor individu tetap dibatasi oleh realitas struktural: resistensi dari Pentagon, kekhawatiran sekutu, reaksi pasar global, serta risiko korban besar. Semua ini membuat perang Iran–AS tetap menjadi opsi yang sangat mahal dan berbahaya.

Kesimpulannya, selama logika kepentingan negara dan stabilitas ekonomi global masih dominan, perang terbuka antara Iran dan Amerika Serikat lebih mungkin tetap menjadi ancaman retoris daripada kenyataan. Bahaya terbesar justru terletak pada salah perhitungan, eskalasi tak disengaja, atau keputusan impulsif di puncak kekuasaan—bukan pada strategi besar yang dirancang secara rasional. []