Kegiatan ABI
#Podcast | Ketua Pimnas ABI Responsif Ceritakan Bencana Aceh Terparah dan Paling Kompleks yang Pernah Dihadapi Relawan
Jakarta, 24 Januari 2026 — Ketua Pimpinan Nasional Ahlulbait Indonesia Responsif (ABI Responsif), Husein Assyahid, memaparkan kondisi terkini wilayah terdampak bencana di Aceh yang dinilai belum pulih secara merata. Sejumlah desa dilaporkan mulai membaik dan aliran listrik kembali menyala, namun sebagian lainnya hingga kini masih mengalami pemadaman.
Pernyataan itu disampaikan Husein dalam kanal Podcast Media ABI pada 21 Januari 2026, dalam episode berjudul “Cerita Relawan ABI Responsif di Bencana Aceh & Sumatera | Akhir 2025”, yang dipandu host Billy Joe.
Menurut Husein, bencana tersebut tergolong masif dan menyebar luas. Dampaknya tidak hanya dirasakan di Aceh, tetapi meluas hingga tiga provinsi. Di Aceh sendiri, banyak kota dan kabupaten terdampak sehingga kondisi lapangan sangat beragam, ada wilayah yang mulai pulih, namun ada pula yang masih mengalami keterbatasan akses dan listrik.
Ia menjelaskan, ABI Responsif memusatkan kerja kemanusiaan pada fase tanggap darurat. Dalam prosedur kebencanaan, masa tanggap darurat umumnya ditetapkan selama 14 hari pertama oleh pemerintah daerah atau pemerintah provinsi. Namun pada peristiwa ini, masa tanggap darurat diperpanjang hingga satu bulan. Karena itu, tim ABI Responsif berada di lokasi kurang lebih satu bulan, sebelum kembali ke Pulau Jawa sekitar 5 atau 6 Januari.
Mulai Bertugas 5 Desember, Lokasi Pertama Kuala Simpang
Husein mengungkapkan, tim ABI Responsif mulai berada di Aceh pada 5 Desember 2025. Peristiwa bencana sendiri terjadi pada akhir November, sekitar 28 atau 29. Setelah pembukaan penggalangan donasi, tim diberangkatkan dan memulai penanganan di lapangan.
Lokasi awal tim berada di Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang. Berdasarkan laporan tim yang lebih dahulu datang, Kuala Simpang saat itu digambarkan seperti “kota mati”. Koneksi internet dan sinyal telepon tidak tersedia, listrik belum menyala, sementara akses jalan rusak. Kondisi itu dinilai cukup parah, bahkan untuk wilayah yang termasuk pusat kota.
Setelah itu, tim bergeser ke wilayah barat, tepatnya di daerah perbatasan antara Aceh Tamiang dan Aceh Timur.
Fokus Bantuan: Kebutuhan Pokok hingga Peralatan Darurat
Pada masa tanggap darurat, ABI Responsif memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok korban bencana. Bantuan yang disalurkan meliputi makanan dan sembako, bantuan darurat seperti lampu emergensi dan tenaga surya, obat-obatan, serta kebutuhan mendesak lainnya seperti tenda.
Husein menyampaikan bahwa sebelum bantuan disalurkan, tim terlebih dahulu melakukan assessment dan pendataan. Pemetaan kondisi dilakukan terutama di Aceh Tamiang dan Aceh Timur. Tim juga berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk menentukan lokasi kerja dan titik-titik penyaluran.
Kondisi lapangan membuat distribusi bantuan di sebagian wilayah harus dilakukan melalui jalur air. Menurut Husein, Aceh memiliki beberapa sungai besar yang membelah wilayah, sementara banjir bandang merusak banyak jembatan, baik jembatan besar maupun kecil. Akibatnya, sejumlah desa hanya bisa diakses menggunakan perahu.
Dibanding Lombok dan Palu, Aceh Disebut yang Paling Parah
Husein menilai bencana Aceh sebagai bencana paling berat yang pernah ia tangani selama menjadi relawan. Ia menyebut pernah terjun langsung dalam Gempa Lombok 2018 serta bencana gempa-tsunami dan likuifaksi di Palu, Sulawesi Tengah, namun Aceh disebut menjadi pengalaman bencana terparah yang pernah ia hadapi.
Alasannya, dampak bencana Aceh sangat luas, mencakup tiga provinsi dan puluhan kota-kabupaten. Selain itu, situasi lapangan dinilai kompleks: akses jalan dan jembatan terputus, listrik dan jaringan internet sulit, termasuk sinyal telepon yang minim. Bahkan, menurutnya, hingga kini masih ada lokasi yang kesulitan akses listrik maupun komunikasi.
Kendala Utama: Akses Terputus dan Jaringan Hilang
Ia mengakui tantangan relawan pada masa awal cukup berat, terutama karena akses menuju beberapa wilayah terputus. Dalam beberapa kasus, tim harus menempuh rute memutar melalui jalur alternatif karena akses utama belum terbuka. Pada kondisi tertentu, kendaraan tidak bisa masuk sehingga bantuan harus dibawa dengan berjalan kaki.
Baca juga : DPD ABI Kota Pekalongan Dirikan “Dapur Peduli” untuk Korban Banjir
Selain akses, jaringan komunikasi menjadi problem utama. Putusnya jaringan membuat koordinasi dengan tim di luar lokasi bencana menjadi sulit, khususnya terkait pengiriman dana dan pengadaan logistik di luar Aceh.
Husein menambahkan, skala bencana yang luas juga membuat ketersediaan informasi tidak utuh. Informasi kondisi lapangan diterima secara sepotong-sepotong sehingga proses pengumpulan data berjalan lambat. Ia menyebut, pada masa awal tim bahkan sempat mempertimbangkan keberangkatan karena informasi yang diterima masih minim, baik soal tingkat keparahan, luas dampak, maupun kondisi riil di lapangan, situasi yang diperparah oleh hilangnya jaringan dan sinyal.
Menghadapi hambatan tersebut, tim melakukan sejumlah penyesuaian. Untuk urusan akses, tim terus menggali informasi dan berkoordinasi dengan kepala desa serta warga setempat, termasuk mencari warga yang memiliki perahu untuk menjangkau desa-desa terisolasi.
Sementara untuk komunikasi, tim memanfaatkan titik-titik yang masih memiliki sinyal, meski harus berpindah lokasi hanya untuk berkoordinasi, termasuk dengan tim pengadaan logistik di Medan. Ia juga menyebut keberadaan Starlink milik warga setempat sempat dimanfaatkan agar tim dapat terhubung dengan pihak di luar Aceh.
Kolaborasi dengan Komunitas, Pemerintah, BNPB/BPBD, dan Relawan Lain
Husein menegaskan, kerja sama menjadi hal yang tidak bisa dihindari dalam misi kebencanaan. ABI Responsif berkoordinasi dengan komunitas pengikut Ahlul Bait setempat yang dinilai lebih memahami situasi wilayah dan membantu pendampingan lapangan.
Selain itu, tim menjalin koordinasi dengan pemerintah daerah, mulai dari kepala desa hingga kecamatan, serta lembaga penanggulangan bencana seperti BNPB/BPBD. Koordinasi juga dilakukan dengan relawan lain untuk berbagi informasi dan bekerja bersama.
Husein menyampaikan, dukungan komunitas disebut sangat solid, baik dari komunitas yang terdampak maupun yang berada di luar wilayah bencana. Komunitas di sejumlah titik seperti Banda Aceh, Bireuen, dan Lhokseumawe turut membantu distribusi ke wilayah-wilayah yang jauh dari jangkauan tim.
Di Kuala Simpang, komunitas membantu menyediakan informasi, saran, dan masukan untuk penanganan di lapangan. Sementara Medan yang menjadi lokasi pengadaan logistik juga disebut mendapat dukungan kuat dari komunitas.
Husein juga menuturkan, komunitas di berbagai kota dan kabupaten melakukan penggalangan dana secara terbuka. Donasi tersebut kemudian disalurkan kepada ABI Responsif secara personal maupun komunal. Dukungan juga datang dari elemen komunitas seperti ABI, Muslimah, Pandu, serta Dana Mustadafin yang disebut mendukung penuh dalam penggalangan dan penyaluran bantuan.
Pelajaran: Mitigasi Bencana dan Pemerataan Kesiapan Relawan
Husein menilai bencana ini memberikan pelajaran penting bagi Indonesia, termasuk pemerintah, agar lebih serius dalam mitigasi bencana. Ia melihat mitigasi di Aceh sebelum bencana masih sangat kurang. Bahkan terdapat tindakan yang dinilai berlawanan dengan prinsip mitigasi, sehingga memperparah dampak bencana.
Ia mencontohkan, banjir bandang semestinya membawa air, namun tindakan seperti deforestasi memperburuk situasi. Berkurangnya hutan menghilangkan daya serap air, ditambah penataan permukiman yang tidak memadai, sehingga bencana menjadi jauh lebih parah.
Bagi komunitas pengikut Ahlul Bait, Husein menekankan bahwa Indonesia merupakan negeri luas dan rawan bencana hampir di semua wilayah, dengan Kalimantan sebagai wilayah yang relatif lebih minim. Karena itu, dibutuhkan kesiapan yang masif dan menyeluruh di setiap titik komunitas.
Ia menyebut ABI Responsif berharap dapat membentuk tim relawan di setiap pulau bahkan setiap provinsi. Dengan begitu, ketika bencana terjadi di mana pun, komunitas dapat merespons lebih cepat, maksimal, dan profesional.
Husein menambahkan, misi Aceh dijalankan oleh personel dari Pulau Jawa, seperti Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Hal itu semakin menegaskan pentingnya pemerataan kesiapan relawan di berbagai daerah, termasuk untuk menghadapi situasi non-bencana seperti pandemi COVID-19 yang pernah menuntut ketahanan komunitas secara luas.
Menutup podcast, Husein menegaskan, penguatan relawan di luar Jawa akan terus diupayakan melalui pembentukan tim di berbagai wilayah dengan kapasitas yang sama dan kekuatan yang merata, demi penanganan kebencanaan yang lebih maksimal, lebih cepat, dan lebih profesional. [HMP/ABI]
Dengarkan hingga tuntas untuk memahami bagaimana kerja kemanusiaan dijalankan dari dekat dan langsung dari para relawan yang berada di lapangan melalui tautan podcast ‘Cerita Relawan ABI Responsif di Bencana Aceh & Sumatera | Akhir 2025’.
Baca juga : DPD ABI Jepara Hadiri Forum DPRD, Bahas Penguatan Komunikasi Pesantren dan Aparat
