Opini
Media Barat Menilai Trump: Caracas sebagai Rawa dan Amerika Kembali ke Wild West
Jakarta, 7 Januari 2026 — Media Barat, yang biasanya piawai merias intervensi Amerika sebagai misi moral, kali ini terdengar lebih jujur dari kebiasaan. Mereka memperingatkan bahwa pendekatan Washington terhadap Venezuela bukan hanya agresif, tetapi juga sembrono dan berbahaya. Serangan ke Caracas dan penculikan Presiden Venezuela beserta istrinya, tulis sejumlah media, tidak hanya menyeret dunia ke era “Wild West”, tetapi juga berpotensi menjerumuskan Amerika ke rawa geopolitik yang sudah akrab sejak Irak dan Afghanistan. Sejarah, rupanya, masih sesekali lolos dari sensor optimisme.
Beberapa hari setelah invasi militer Amerika Serikat dan penculikan Nicolas Maduro serta istrinya, peristiwa tersebut tetap mendominasi tajuk utama internasional. Pada Senin malam (5/1/26), Delcy Rodriguez dilantik sebagai presiden sementara Venezuela. Pemerintahan baru ini segera menetapkan status darurat dan memerintahkan penangkapan pihak-pihak yang mendukung operasi militer Amerika.
Ironi muncul tanpa perlu dipaksakan. Saat pelantikan berlangsung di Caracas, media Barat menayangkan foto Maduro dan istrinya di ruang sidang New York. Celia Flores tampak dengan memar di bawah mata dan perban di dahi. Pengacaranya menyatakan kliennya mengalami cedera serius selama penculikan dan kemungkinan patah tulang rusuk. Gambar-gambar tersebut berbicara lebih jujur daripada konferensi pers mana pun yang digelar Gedung Putih.
Tarian Menjijikkan Seorang Kandidat Kesayangan Barat
Di sisi lain panggung, tampil tontonan yang nyaris grotesk. Maria Corina Machado Parisca, penerima Hadiah Nobel Perdamaian, sibuk melakukan manuver politik murahan demi menarik perhatian Donald Trump. Tokoh oposisi itu berjanji akan mengubah Venezuela menjadi pusat energi bagi Amerika Serikat. Terjemahan praktisnya sederhana, bahwa minyak Venezuela untuk Amerika yang dibungkus retorika reformasi.
Machado bahkan menyatakan kesediaan memberikan Hadiah Nobel Perdamaiannya kepada Trump, seolah penghargaan internasional tersebut hanyalah cendera mata diplomatik. Trump, yang sebelumnya menyebut Machado tidak berguna, tetap tak bergeming. Dalam politik ala Wild West, badut boleh menari, tetapi jarang diberi kursi.
Hari-Hari Sulit yang Menanti Washington
Sementara Trump menyebut invasi dan penculikan presiden negara berdaulat sebagai “kemenangan”, media Barat justru membaca tanda-tanda sebaliknya. Rekam jejak Amerika di Irak dan Afghanistan kembali menghantui. Foreign Affairs mengingatkan, pada 2003, George W. Bush berdiri di bawah spanduk “Mission Accomplished”, lalu menyaksikan Irak runtuh dalam pemberontakan, krisis legitimasi, dan konflik panjang.
Pola serupa kini terlihat di Venezuela. Kelompok kriminal dan aktor bersenjata non-negara diperkirakan tetap beroperasi meski ada intervensi Amerika, menciptakan ketidakpastian politik berkepanjangan yang memperparah migrasi dan instabilitas regional. Stabilitas, tegas para analis, tidak lahir dari operasi militer cepat, melainkan kebijakan jangka panjang yang mahal dan berisiko. Tidak ada jaminan Washington siap membayarnya.
Kekalahan Mahal yang Dibungkus Retorika Kemenangan
Foreign Affairs mencatat bahwa bagi Trump, Venezuela lebih menyerupai aset daripada isu kebijakan luar negeri. Perusahaan minyak Amerika diminta menanamkan miliaran dolar demi merebut kembali aset mereka. Namun realitasnya keras: infrastruktur minyak Venezuela usang, mahal dipulihkan, dan membutuhkan waktu sekitar satu dekade untuk dieksploitasi penuh.
Ruang gerak Washington pun sempit. Banyak ladang minyak telah terikat kontrak dengan perusahaan asing, termasuk dari Tiongkok, yang menuntut penghormatan hukum. Penarikan cepat berisiko meninggalkan kekacauan, sementara keterlibatan berkepanjangan berpotensi menjerat Amerika dalam konflik intensitas rendah yang menggerogoti legitimasi dan kemauan politiknya sendiri. Satu salah hitung cukup untuk menjadikan Venezuela rawa berikutnya.
Baca juga : Intel: Khamenei Ancang-ancang Kabur ke Rusia, Cara Media Kompas Membaca Cerita
Wild West sebagai Metode
Ketika The Washington Post menyebut tindakan Trump membawa dunia kembali ke Wild West, istilah tersebut bukan hiasan bahasa. Wild West merujuk pada wilayah perbatasan barat Amerika Serikat pada paruh kedua abad ke-19, era ekspansi brutal dengan hukum rapuh, kekerasan sebagai alat negosiasi, dan keyakinan bahwa kekuatan adalah sumber legitimasi. Kota-kota dadakan, pertambangan rakus, dan konflik berdarah membentuk lanskap tanpa negara. Mitologi koboi kemudian memoles periode itu; sejarah aslinya jauh lebih kotor.
Dalam konteks Venezuela, Wild West berarti kembalinya logika lama: hukum internasional disisihkan, kedaulatan dianggap penghalang, dan senjata menjadi bahasa diplomasi. Operasi militer mungkin berhasil secara taktis, tetapi kegagalan strategis tetap mengintai. Bayang-bayang panjang intervensi Amerika yang gagal terus mengikuti setiap langkah Washington.
Menurut Washington Post, serangan ke Venezuela menandai implementasi paling terang dari strategi keamanan nasional Trump yang menetapkan Belahan Barat sebagai wilayah pengaruh eksklusif Amerika, menghidupkan kembali naluri diplomasi kapal perang dan neo-imperialisme. Respons dingin Eropa mencerminkan kecemasan yang meningkat terhadap masa depan aliansi transatlantik. Dunia sedang diarahkan ke Wild West geopolitik, di mana kekuatan menentukan kebenaran dan aturan diperlakukan sebagai ornamen.
Ancaman terhadap Tatanan Global
Nada serupa datang dari Eropa. Time Magazine menilai perintah Trump menyerang Venezuela sebagai ancaman langsung terhadap tatanan dunia, seraya bertanya: negara mana berikutnya? Greenland, Kolombia, Kuba, Iran atau target lain dalam daftar fantasi geopolitik Washington. Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban bahkan menyebut langkah ini sebagai bukti runtuhnya tatanan global saat ini.
The Hill, dalam laporan Big Gamble, menyebut taruhan terbesar pemerintahan Trump adalah menunjuk Delcy Rodriguez, tokoh dekat Maduro, untuk memimpin Venezuela. Tantangan terberat justru dimulai sekarang: memaksakan stabilitas dengan bergantung pada sisa-sisa rezim yang baru saja mereka gulingkan. Laporan CIA sendiri mengakui bahwa oposisi Venezuela yang “berbudaya Barat” minim dukungan rakyat, elit, dan militer. Wall Street Journal (WSJ) menulis bahwa Trump, atas saran CIA, bertaruh pada loyalis Maduro karena dinilai paling mampu menjaga stabilitas.
Pada tahap ini, ironi tak lagi perlu ditafsirkan. Amerika memasuki Venezuela dengan retorika kebebasan, lalu menggantungkan masa depan negara itu pada struktur lama yang sebelumnya dicap sebagai masalah. Venezuela bukan awal dari tatanan baru, melainkan bukti bahwa Amerika kembali memilih jalan lama yang sudah terbukti gagal. [HMP]
Sumber:
1. Foreign Affairs: The Regime Change Temptation in Venezuela
If Past Is Prologue, a U.S. Attempt to Overthrow Maduro Would Not End Well
– The End of the Beginning in Venezuela
The Real Challenges and Risks for U.S. Policy Are Still to Come
2. The Washington Post: Trump leads the world into a geopolitical Wild West
Here, might makes right, and laws and rules fall away.
3. Time Magazine: Trump’s Potential Next Targets After Venezuela
4. The Hill: Trump threatens Maduro successor: The Atlantic
5. The Wall Street Journal (WSJ): CIA Concluded Regime Loyalists Were Best Placed to Lead Venezuela After Maduro
Trump was briefed on intelligence report that found opposition would struggle to lead a temporary government
Baca juga : Donald Trump dan Politik “Ana Rabbukumul A‘la” di Abad ke-21
