Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Idul Fitri: Kembali ke Fitrah dan Takwa di Tengah Nestapa Gaza

Ahlulbait Indonesia – Gema takbir berkumandang dari masjid ke masjid, menyelimuti suasana pagi yang penuh sukacita. Anak-anak berlarian dengan baju baru, sementara aroma ketupat dan opor ayam memenuhi udara. Ramadan telah pergi, meninggalkan jejak pertanyaan mendasar: Sudahkah kita benar-benar mencapai tujuan puasa, menjadi manusia yang bertakwa? Ataukah kita hanya melewatkan bulan suci ini sebagai ritual tahunan belaka? Tentu saja, Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan momen introspeksi: sejauh mana transformasi spiritual kita selama Ramadan benar-benar mengubah cara pandang dan tindakan kita terhadap dunia dan manusia?

Namun, kebahagiaan yang kita rasakan tidak selalu dirasakan oleh semua orang. Di balik kemeriahan Idul Fitri, tersembunyi paradoks yang memilukan.

Antara Gaza dan Kesadaran Sosial

Sementara sebagian keluarga berkumpul di meja makan dengan hidangan berlimpah, saudara-saudara kita di Gaza merayakan hari raya di tengah reruntuhan. Tidak ada baju baru bagi anak-anak Palestina, hanya kain lusuh yang menutupi luka. Tidak ada ketupat atau rendang, hanya sepotong roti kering yang harus dibagi untuk beberapa orang. Ironi ini seharusnya mengganggu pikiran kita: bagaimana mungkin kita bersukacita sementara saudara-saudara kita di Palestina dan berbagai sudut dunia menderita dan berjuang sekadar untuk bertahan hidup?

Perbedaan yang mencolok ini menuntut kita untuk merefleksikan makna Idul Fitri yang sesungguhnya. Apakah kita hanya merayakannya dengan pakaian baru dan hidangan lezat, atau justru menjadikannya sebagai momentum untuk menumbuhkan kepedulian?

Idul Fitri dan Ujian Kepedulian

Idul Fitri sejatinya adalah ujian bagi kepekaan sosial kita. Jika Ramadan disebut sebagai “bulan kepedulian,” maka Idul Fitri adalah saat kita membuktikan apakah kepedulian itu abadi atau hanya musiman. Sayangnya, dalam banyak kasus, semangat berbagi umat Islam justru memudar seiring berakhirnya Ramadan. Donasi menurun, kegiatan sosial berkurang, dan perhatian kepada mereka yang menderita pun menguap.

Padahal, Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang tidak peduli dengan urusan umat Islam, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR. Al-Hakim)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa kepedulian bukan sekadar anjuran, melainkan bagian tak terpisahkan dari ketakwaan. Oleh karena itu, kepedulian kita tidak boleh berhenti pada doa semata, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata; entah melalui donasi, advokasi, atau tekanan politik kepada pihak-pihak yang bisa mengubah keadaan Palestina.

Namun, bagaimana kita bisa mempertahankan kesadaran ini dalam jangka panjang? Jawabannya terletak pada pemahaman kita terhadap fitrah dan takwa.

Fitrah Manusia dan Tanggung Jawab Universal

Fitrah manusia, seperti ditegaskan dalam Surah Ar-Rum ayat 30;

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” Ia suci dan mengajak pada kebaikan. Namun, fitrah ini bisa terkikis jika kita membiarkan diri terlena dalam kesenangan pribadi tanpa memedulikan penderitaan orang lain. Idul Fitri seharusnya mengembalikan kita pada kesadaran ini: bahwa kemanusiaan kita diuji bukan hanya melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui sikap kita terhadap ketidakadilan global.

Melihat Gaza hari ini, kita dihadapkan pada pertanyaan moral:

Apakah suara kita cukup lantang menuntut keadilan, atau justru tenggelam dalam euforia hari raya?

Jika Idul Fitri benar-benar membawa kita kembali ke fitrah, maka ia juga mengingatkan kita pada tanggung jawab kita sebagai bagian dari umat manusia. Dan ini adalah bagian dari takwa.

Idul Fitri sebagai Gerakan Perubahan

Idul Fitri tidak boleh berakhir sebagai tradisi. Ia harus menjadi momentum untuk membangun kesadaran kolektif bahwa Islam adalah agama yang tidak hanya mengurusi kesalehan individu, tetapi juga keadilan sosial. Setiap takbir yang kita kumandangkan harus menjadi pengingat bahwa Allah Maha Besar, sementara kezaliman, seberapa pun kuatnya, pasti akan binasa.

Maka, mari kita jadikan Idul Fitri tahun ini sebagai titik balik. Bukan hanya kembali ke fitrah secara spiritual, tetapi juga bangkit sebagai umat yang tidak akan pernah diam melihat ketidakadilan. Mari jadikan perayaan ini sebagai awal dari langkah-langkah nyata untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Semoga kita kembali ke fitrah secara spiritual dan tindakan, sekaligus kembali kepada kesadaran sosial yang lebih kuat. Minal ‘aidin wal-faizin, taqabbalallahu minna wa minkum.[]

Redaksi Media Ahlulbait Indonesia